Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Turki: Banyak Negara Anggota G7 Cemari Bumi

Senin 26 Jul 2021 03:29 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Andi Nur Aminah

Warga melintasi genangan air banjir di kawasan pemukiman di Carlisle, Inggris (ilustrasi)

Warga melintasi genangan air banjir di kawasan pemukiman di Carlisle, Inggris (ilustrasi)

Banjir di seluruh dunia menunjukkan dampak negatif perubahan iklim yang mengancam.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Menteri Lingkungan dan Perkotaan Turki  Murat Kurum mendesak anggota negara-negara kaya Group of Seven (G7) mengambil tindakan untuk mengurangi emisi dan jejak karbon. Desakan ini disampaikan dalam pertemuan menteri-menteri lingkungan negara G20. "Kami melihat banyak negara-negara anggota G7 yang mencemari bumi, kami membahas langkah yang perlu diambil untuk mengurangi jumlah emisi dan jejak karbon," kata Kurum pada Anadolu Agency, Ahad (25/7).

Ia mengatakan banjir di seluruh dunia telah menunjukkan dampak negatif perubahan iklim yang mengancam keselamatan nyawa dan properti warga serta infrastruktur kota. "Sekarang kami menghadapi imigrasi karena perubahan iklim," kata Kurum.

Baca Juga

Ia menambahkan lokasi pertemuan menteri-menteri lingkungan G20 di Naples, Italia sangat berarti. Pertemuan digelar di kaki Gunung Berapi Vesuvius. Kurum mengatakan ia juga menggelar pertemuan yang sangat produktif dengan Perwakilan Khusus Amerika Serikat (AS) untuk Perubahan Iklim John Kerry. "Kami membahas mengenai akses anggaran perubahaan iklim dan ketidakadilan terhadap negara kami dibandingkan negara-negara lain,"  kata Kurum.

Mengenai energi terbarukan, Kurum mencatat Turki berada di peringkat 12 di dunia dan kelima di Eropa. Sekitar 52 persen pembangkit tenaga listrik terbaru sudah terpasang. "Sekarang kami berusaha untuk menghasilkan 10 gigawatt tenaga surya dan angin setiap tahun selama 10 tahun ke depan dan meningkatkan kapasitas energi terbarukan kami," tambah Kurum.

Ia juga mencatat jumlah tanah lindung di Turki bertambah menjadi 11,5 persen. Saat ini negara itu sedang berusaha bekerja sama dengan Organisasi Pembangunan dan Kerjasama Ekonomi (OECD) untuk mencapai rata-rata 17 persen. Kurum mencatat Turki telah membangun taman nasional dan koridor ekologi di empat jalur ekologi yang akan menghubungkan utara, selatan, timur dan barat Turki.  

"Proyek-proyek yang kami lakukan lebih banyak dan stabil dibandingkan negara-negara lain, kami akan mempercepat prosesnya setelah mendapatkan akses ke anggaran perubahan iklim," kata Kurum. 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA