Thursday, 9 Safar 1443 / 16 September 2021

Thursday, 9 Safar 1443 / 16 September 2021

Covid End Game?, Lonjakannya Sampai Pertengahan Agustus 2021

Sabtu 24 Jul 2021 15:29 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Joko Sadewo

Tenaga medis menggerakkan tangki oksigen di Rumah Sakit Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta, Indonesia, Minggu, 4 Juli 2021.

Tenaga medis menggerakkan tangki oksigen di Rumah Sakit Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta, Indonesia, Minggu, 4 Juli 2021.

Foto: AP/Kalandra
Pertambahan kasus Covid-19 sekarang dikategorikan dalam zona yang sangat ekstrem.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus harian Covid-19 di Tanah Air masih terus bertambah bahkan meningkat tajam. Epidemiolog dari Universitas Hasanuddin Makassar Ridwan Amiruddin memprediksi lonjakan kasus Covid-19  terjadi hingga pertengahan Agustus 2021.

Ridwan menggambarkan kurva epidemiologi pertambahan kasus Covid-19 sekarang dikategorikan dalam zona yang sangat ekstrem. "Jadi, grafiknya ekstrem sekali dan terjadi secara eksponensial. Kalau diprediksi, pertumbuhan kasus Covid-19 baru akan berlangsung sampai pertengahan Agustus 2021," katanya saat mengisi konferensi virtual bertema PPKM End Game?, Sabtu (24/7).

Ridwan memperkirakan, kasus baru Covid-19 akan meningkat bahkan bertambah drastis selama periode sekarang, sampai tiga hingga empat pekan mendatang.

Diingatkannya, dengan terus bertambahnya kasus Covid-19 maka keterisian tempat tidur di rumah sakit menjadi tantangan. Sehingga fasilitas kesehatan harus disiapkan.

Oleh karena itu, Ridwan meminta negara harus hadir dalam isolasi pasien Covid-19 tanpa gejala atau bergejala ringan. Pemerintah jangan berlindung di peraturan yang dibuat oleh kementerian bahwa hanya pasien bergejala sedang dan berat boleh masuk ke rumah sakit.

Ia mencontohkan ada beberapa tempat isolasi terpusat dan terkontrol yang ternyata berhasil.  "Itu mestinya tetap diadopsi supaya tidak jatuh korban yang lebih banyak. Itu yang memberikan kontribusi angka kematian terus meningkat," katanya.

Kalau kasus Covid-19 meningkat, kata Ridwan, otomatis angka kematiannya meningkat. Kalau angka kematian di atas 2,7 persen, dia melanjutkan, artinya yang meninggal dunia bisa lebih dari 1.000 jiwa per hari. "Ini harus diupayakan kasus dibendung, rumah sakit tetap survive memberikan layanan yang terbaik dan masyarakat tetap produktif," ujarnya.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA