Kamis 22 Jul 2021 16:31 WIB

Gubernur Jatim: 506 Ribu Dosis Vaksin Tiba di Surabaya

Jatim menargetkan 70 persen masyarakat sudah divaksin pada Agustus mendatang.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberikan sambutan dalam acara Anugerah Syariah Republika 2020 yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, Senin (21/12). Foto : Tangkapan Layar/Edwin Putranto/Republika
Foto: Edwin Dwi Putranto/Republika
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberikan sambutan dalam acara Anugerah Syariah Republika 2020 yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, Senin (21/12). Foto : Tangkapan Layar/Edwin Putranto/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA--Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan sebanyak 506 ribu dosis vaksin dijadwalkan tiba di Surabaya pada Kamis (22/7) malam. "Pada rakor dengan Wapres kemarin, Menkes langsung merespons dan nanti malam akan datang 506 ribu dosis vaksin untuk Jatim," ujarnya, saat ditemui di sela peninjauan vaksinasi massal "Insan Sektor Jasa Keuangan" Jatim di Surabaya, Kamis (22/7).

Menurut dia, suplai vaksin merupakan faktor penting agar proses vaksinasi berjalan lancar dan harapan untuk terbentuk kekebalan komunal pada Agustus mendatang dapat tercapai. Pemprov Jatim, kata dia, bertekad memberikan hadiah pada peringatan HUT Ke-76 RI berupa capaian kekebalan komunal melalui 70 persen warga Jatim tervaksin.

Untuk mencapainya, Pemprov Jatim menargetkan 300 ribu vaksin setiap harinya sehingga diharapkan peran serta semua elemen untuk mewujudkannya dan pandemi bisa semakin dikendalikan, khususunya di Jatim. Karena itu, Gubernur Khofifah juga berharap agar distribusi dosis vaksin dari pusat ke daerah berjalan lancar karena diakuinya sangat tergantung suplai.

"Sekarang ini, semua pihak sangat-sangat luar biasa mendukungnya. Sinergitas forkopimda, kolaborasi dunia usaha serta semangat masyarakat Jatim membuat kami optimistis capaian target vaksinasi terwujud," ucap dia.

Terlebih, lanjut Khofifah, sesuai arahan Presiden Jokowi yang meminta tak ada penyimpanan vaksin untuk dosis kedua, tapi harus memaksimalkan stok yang ada terlebih dahulu. "Dua kali sepekan pusat menyuplai vaksin ke daerah. Respons masyarakat yang begitu luar biasa sangat membantu sekali, sebab semua ingin Jatim terlepas dari pandemi Covid-19," katanya.

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 Jatim, jumlah penerima vaksin dosis pertama mencapai 7.058.237 orang, atau mengungguli DKI Jakarta 6.693.688 orang, Jawa Barat 5.134.735 orang, Jawa Tengah 4.523.284 orang dan Bali 2.946.919 orang. Sementara yang sudah mendapat dosis kedua vaksinasi Covid-19 di Jatim sebanyak 2.694.731 orang, Jawa Barat 2.315.419 orang, Jawa Tengah 2.311.019 orang, DKI Jakarta 2.041.918 orang dan Bali 783.613 orang.

Data tersebut membuat capaian vaksinasi di wilayah setempat menjadi yang tertinggi dibanding provinsi lain di Indonesia. Pada kesempatan sama, Khofifah mengimbau masyarakat yang sudah divaksinagar tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan "5M", termasuk tetap menggunakan masker. Menurut dia, vaksinasi dan tertib protokol kesehatan merupakan sektor hulu yang harus dijaga, sedangkan hilirnya, yaitu bersifat kuratif, seperti rumah sakit dan tenaga kesehatan yang sudah bekerja maksimal, mengatur kebutuhan oksigen, menambah rumah sakit darurat dan lainnya.

"Semua tidak akan cukup kalau yang dikerjakan hanya hilir dan tak diikuti hulunya. Jangan pernah berhenti mematuhi protokol kesehatan dan ikuti proses vaksinasi," kata Khofifah.

Secara khusus, orang nomor satu di Jatim tersebut mengapresiasi insan sektor jasa keuangan yang menggelar vaksinasi massal untuk masyarakat dengan harapan segera tercapai kekebalan kelompok. Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional IV Jawa Timur Bambang Mukti Riyadi berharap vaksinasi massal yang dilakukan dapat membantu Jatim dan Indonesia segera keluar dari pandemi Covid-19.

Pada vaksinasi massal yang digelar 22-24 Juli 2021, pihaknya menargetkan sehari 10 ribu dosis atau selama penyelenggaraan dapat melakukan vaksinasi kepada 30 ribu orang. "Sasarannya masyarakat Jatim, terdiri dari 30 persen karyawan jasa keuangan, lalu 70 persen warga umum. Kami berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik, termasuk pendaftaran lewat daring demi mengurangi pergerakan dan kontak fisik," tutur dia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement