Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Studi Temukan Kesamaan Infeksi Covid-19 Pascavaksinasi

Kamis 22 Jul 2021 16:25 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Nora Azizah

CDC sudah memperingatkan sejak awal bahwa tidak ada vaksin yang 100 persen efektif.

CDC sudah memperingatkan sejak awal bahwa tidak ada vaksin yang 100 persen efektif.

Foto: Republika/Thoudy Badai
CDC sudah memperingatkan sejak awal bahwa tidak ada vaksin yang 100 persen efektif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang yang divaksinasi lengkap boleh dibilang paling terlindungi dari infeksi Covid-19. Meski begitu, orang tersebut bukan berarti bebas dari risiko apa pun.

Vaksinasi dapat membuat gejala penyakit lebih ringan saat tekena infeksi. Adapun akibat varian delta, infeksi usai vaksin alias infeksi terobosan tetap muncul, kendati sebagian besar kasusnya ringan, namun ada pula kejadian serius hingga mematikan.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) memperingatkan sejak awal bahwa tidak ada vaksin yang 100 persen efektif, dan bahwa sejumlah kecil individu yang divaksinasi masih dapat mengembangkan infeksi COVID yang memerlukan perawatan medis.

Namun, menurut data dari lembaga, risikonya tidak sama untuk semua orang. CDC telah menemukan bahwa ada satu kesamaan yang dapat dilihat di antara 3 dari 4 orang yang divaksinasi yang akhirnya mengembangkan COVID parah.

Pada 12 Juli, ada hampir 5.500 kasus terobosan vaksin yang dirawat di rumah sakit atau fatal yang dilaporkan ke CDC. Laporan itu berasal dari 159 lebih individu yang divaksinasi penuh.

"Tidak ada vaksin yang 100 persen efektif mencegah penyakit pada orang yang divaksinasi. Akan ada sebagian kecil orang yang divaksinasi lengkap yang masih sakit, dirawat di rumah sakit, atau meninggal karena COVID-19,” lapor CDC.

Tetapi menurut data CDC, orang yang mengalami infeksi terobosan parah ini cenderung punya satu kesamaan, yakni mereka adalah orang dewasa lebih tua. Orang yang divaksinasi penuh 65 tahun ke atas bertanggung jawab atas 75 persen kasus terobosan COVID yang menyebabkan rawat inap atau kematian.

"Sepanjang pandemi, orang yang meninggal karena COVID-19 kemungkinan besar berusia lebih tua, dan itu terus berlanjut dengan kasus-kasus terobosan," kata juru bicara Departemen Kesehatan Masyarakat Massachusetts kepada NBC News, dilansir Best Life, Kamis (22/7).

Seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh semakin lemah dan lebih berisiko mengalami sejumlah kondisi medis. Sebuah studi 6 Juli yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Microbiology and Infection menemukan dari 152 infeksi terobosan parah di Israel.

Baca Juga

Hanya enam persen yang terjadi pada orang yang tidak memiliki kondisi kesehatan mendasar atau sistem kekebalan lemah. Sebaliknya, mayoritas dari mereka yang terkena COVID parah setelah vaksinasi memiliki beberapa penyakit penyerta, seperti hipertensi, diabetes, dan gagal jantung dengan 40 persen immunocompromised.

Namun, infeksi terobosan yang parah masih jarang terjadi. CDC telah berhenti mengumpulkan data tentang semua infeksi terobosan, tetapi analisis terbaru oleh NBC News dari data yang tersedia untuk 27 negara bagian yang terus melacak kasus-kasus ini. Studi menemukan bahwa sementara 65.000 kasus COVID setelah vaksinasi penuh telah dilaporkan, hanya sekitar 5.500 dari kasus tersebut mengalami sakit parah.

Risiko paling serius masih terletak pada mereka yang tidak divaksinasi. Selama pengarahan Gedung Putih 16 Juli, direktur CDC Rochelle Walensky, MD, mengkonfirmasi bahwa lebih dari 97 persen orang yang saat ini dirawat di rumah sakit karena COVID adalah individu yang tidak divaksinasi. Orang dewasa yang lebih tua yang divaksinasi juga jauh lebih terlindungi daripada mereka yang tidak divaksinasi.

Sebuah studi CDC dari April menemukan bahwa orang dewasa yang divaksinasi penuh berusia 65 tahun ke atas memiliki kemungkinan 94 persen lebih kecil untuk dirawat di rumah sakit karena COVID. Hal ini dibandingkan mereka yang berusia sama tapi belum divaksinasi.

"Vaksin COVID-19 sangat efektif dan temuan dunia nyata ini mengkonfirmasi manfaat yang terlihat dalam uji klinis, mencegah rawat inap di antara mereka yang paling rentan," kata Walensky dalam sebuah pernyataan saat itu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA