Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

AS Ancam Tambah Sanksi Turki Jika Tetap Beli Rudal Rusia

Kamis 22 Jul 2021 11:37 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah

Sistem misil S-400 milik Rusia. Modifikasi S-400 dan S-300 membuatnya dapat digunakan untuk berbagai jenis rudal. Ilustrasi.

Sistem misil S-400 milik Rusia. Modifikasi S-400 dan S-300 membuatnya dapat digunakan untuk berbagai jenis rudal. Ilustrasi.

Foto: EPA
AS akan tetap menangguhkan Turki dalam program pengadaan Jet F-35.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) mengancam akan memberikan lebih banyak sanksi terhadap Turki sebagai akibat membeli sistem pertahanan rudal Rusia. Hal ini dikatakan oleh Wakil Menteri Luar Negeri untuk Urusan Politik AS Victoria Nuland pada sidang Senat, Rabu (21/7) waktu setempat.

"Kami terus menolak pembelian dan penyebaran sistem pertahanan udara S-400 Rusia oleh Turki dan telah menjelaskan bahwa setiap pembelian senjata besar baru dari Rusia berisiko memicu sanksi The Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) tambahan," ujar Nunland seperti dikutip laman Al Arabiya, Kamis (22/7).

Berbicara pada Dengar Pendapat Komite Hubungan Luar Negeri Senat tentang Kebijakan AS tentang Turki, Nuland menegaskan penangguhan keterlibatan Ankara dari program jet tempur F-35. "Penjualan dan produksi bersama F-35 akan tetap ditangguhkan," katanya.

Senator Jim Risch juga mengecam Turki atas senjata Rusia. "F-35 tidak akan dikirim ke Turki selama S400 berada di tanah Turki," kata Risch.

Sekitar 900 bagian untuk F-35 sedang diproduksi di Turki. "Ini turun ke jumlah minimal dan akhirnya akan dihapus," katanya.

Sementara itu, Ketua Komite Senator Bob Menendez mengatakan, bahwa dia mendapatkan informasi bahwa Turki tengah membangun pangkalan pesawat tak berawak di Siprus yang diduduki. Nuland mengatakan dia akan menyelidikinya.

Namun diplomat senior AS itu juga mengkritik Turki atas pengumuman perampasan tanahnya di kota Varosha, Siprus. "Amerika Serikat memandang tindakan ini sebagai provokatif, tidak dapat diterima, dan merugikan prospek dimulainya kembali pembicaraan penyelesaian," katanya.

"Kami mengutuk pengumuman kemarin oleh pemimpin Siprus Turki Tatar dan Presiden Turki Erdogan untuk mengizinkan Siprus Turki menguasai bagian-bagian Varosha," ujarnya menambahkan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA