Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Ilmuwan Temukan Puluhan Virus Baru di Tibet

Kamis 22 Jul 2021 00:25 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Puluhan virus baru teridentifikasi pada sampel gletser yang berusia 14.400 tahun.

Puluhan virus baru teridentifikasi pada sampel gletser yang berusia 14.400 tahun.

Foto: Pixabay
Puluhan virus baru teridentifikasi pada sampel gletser yang berusia 14.400 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, LHASA -- Puluhan virus baru teridentifikasi pada sampel gletser asal Dataran Tinggi Tibet yang berusia 14.400 tahun. Gletser merujuk pada bongkahan atau endapan es yang terbentuk akibat akumulasi salju yang mengeras dalam kurun waktu sangat lama.

Tim ilmuwan dari Ohio State University mengebor lapisan es Guliya, kemudian menganalisis inti esnya untuk mempelajari virus yang ada. Ada 33 virus yang ditemukan. Kode genetik beberapa di antaranya sudah diketahui, tapi ada 28 virus yang tidak cocok dengan jenis yang diketahui.

Temuan tersebut berpotensi memberikan pandangan menarik untuk sejarah evolusi virus. Selama ini, gletser dianggap bisa membantu analisis sejarah lantaran mampu menjebak partikel debu, jejak gas, mikroba, dan materi tanaman dari periode waktu yang berbeda.

Karena lapisan ini terbentuk dari waktu ke waktu, para ilmuwan dapat mempelajari inti esnya untuk mempelajari banyak hal tentang iklim purba. Begitu pula untuk mendapat informasi mengenai apa yang ada di atmosfer, serta jenis kehidupan apa yang ada di berbagai titik waktu sejarah.

Hasil studi telah diterbitkan di jurnal Microbiome. Tim memprediksi bahwa virus mungkin berasal dari tanaman dan tanah, dengan sifat yang tidak mudah rusak oleh cuaca dingin. Pasalnya, setengah dari virus baru yang ditemukan tampaknya cocok hidup di es.

"Virus ini memiliki tanda gen yang membantu mereka menginfeksi sel di lingkungan yang dingin, sebuah tanda genetik nyata tentang bagaimana virus mampu bertahan dalam kondisi ekstrem," ungkap salah satu penulis studi, Matthew Sullivan, dikutip dari laman New Atlas, Rabu (21/7).

Sullivan menjelaskan bahwa penelitian dijalankan dengan sangat cermat. Kontaminasi oleh mikroba modern bisa menjadi masalah serius untuk studi sejenis. Untuk mengatasi itu, tim peneliti mengembangkan sebuah metode baru untuk mensterilkan inti es.

Mereka menghilangkan lapisan setebal 0,5 cm dari gletser dengan menerapkan beberapa teknik berbeda. Pertama dengan memakai gergaji, kemudian sampel dicuci dengan etanol, berlanjut dengan air steril. Bagian dalam inti es yang sudah bebas kontaminasi kemudian dianalisis.

Tim sudah menguji proses sterilisasi tersebut pada inti es buatan sendiri yang dilapisi bakteri, virus, dan DNA, sebelum menerapkan pada sampel es asal Tibet. Setelah mereka melakukan proses tiga langkah, tidak ada jejak kontaminan tiruan yang terdeteksi di inti es.
 
Menurut Sullivan, mempelajari mikroba purba dapat membantu memahami sejarah evolusinya, serta bagaimana mikroba beradaptasi dengan perubahan iklim di masa lalu. Metode sterilisasi juga berguna menemukan jejak urutan genetik virus dalam sampel penelitian dari Bulan atau Mars.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA