Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

China Siap Bantu Proses Perdamaian Afghanistan

Rabu 21 Jul 2021 21:26 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Muhammad Hafil

China Siap Bantu Proses Perdamaian Afghanistan. Foto ilustrasi:   Milisi yang setia kepada Ata Mohammad Noor, kepala Jamiat-e-Islami dan seorang panglima perang utara yang kuat, berjaga di kantornya di Mazar-e-Sharif utara Kabul, Afghanistan, Kamis, 8 Juli 2021.

China Siap Bantu Proses Perdamaian Afghanistan. Foto ilustrasi: Milisi yang setia kepada Ata Mohammad Noor, kepala Jamiat-e-Islami dan seorang panglima perang utara yang kuat, berjaga di kantornya di Mazar-e-Sharif utara Kabul, Afghanistan, Kamis, 8 Juli 2021.

Foto: AP/Rahmat Gul
China Siap Bantu Proses Perdamaian Afghanistan

REPUBLIKA.CO.ID,BEIJING – Pemerintah China mengatakan siap bekerja sama dengan komunitas internasional untuk membantu menyelesaikan konflik Afghanistan. Eskalasi tengah terjadi di negara tersebut setelah Amerika Serikat (AS) memutuskan menarik seluruh pasukannya dari sana.

“Kami siap bekerja dengan komunitas internasional untuk membantu Afghanistan mencapai perdamaian sejak dini,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China Zhao Lijian pada Rabu (21/7), dikutip laman resmi Kemenlu China.

Baca Juga

Dia mengatakan, setelah AS menarik pasukannya, Afghanistan dikoyak serangkaian serangan bom. “Situasi keamanan di sana sangat buruk, menimbulkan ancaman serius bagi perdamaian dan stabilitas Afghanistan serta keselamatan rakyatnya,” ujarnya.

Zhao turut mengecam serangan roket yang diarahkan ke zona hijau, sebuah kawasan di Kabul tempat sejumlah kantor misi diplomatik dan istana kepresidenan, pada saat Idul Adha. “China mengutuk keras serangan itu, dengan tegas menentang segala bentuk kekerasan ekstremisme, dan akan terus mendukung pemerintah serta rakyat Afghanistan dalam memerangi terorisme,” ucapnya.

Dia mengatakan, sebagai pihak yang sedari awal terlibat dalam konflik Afghanistan, AS harus bertanggung jawab untuk memastikan kelancaran transisi di negara tersebut. Washington, ujar Zhao, juga dibebani tanggung jawab mencegah kebangkitan pasukan teroris dan memfasilitasi proses perdamaian serta rekonsiliasi.

Saat ini Afghanistan tengah menghadapi peningkatan serangan Taliban. Kelompok tersebut diyakini telah menguasai sekitar separuh dari 400 distrik di negara tersebut.  Mereka pun mengontrol beberapa akses penyeberangan perbatasan penting dan mengepung beberapa ibu kota provinsi yang vital.

Keagresifan Taliban melancarkan serangan dan menguasai lagi sejumlah wilayah Afghanistan terjadi setelah AS dan sekutu NATO-nya menarik pasukannya dari negara tersebut. Penarikan pasukan itu merupakan salah satu poin perjanjian damai yang disepakati AS dan Taliban pada Februari tahun lalu. Taliban menolak melakukan pembicaraan damai dengan Pemerintah Afghanistan jika pasukan asing belum hengkang. 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA