Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

JoJo Ungkap Kisah Kontroversialnya dengan Label Rekaman

Rabu 21 Jul 2021 20:40 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nora Azizah

Penyanyi AS, JoJo, mengaku tak diizinkan makan lebih dari 500 kalori per hari.

Penyanyi AS, JoJo, mengaku tak diizinkan makan lebih dari 500 kalori per hari.

Foto: Youtube
Penyanyi AS, JoJo, mengaku tak diizinkan makan lebih dari 500 kalori per hari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyanyi dan aktris asal Amerika Serikat (AS), JoJo, menceritakan kisah kontroversial yang pernah dialaminya puluhan tahun lalu dengan perusahaan label rekaman yang pernah menaunginya. Ia mengaku pernah tidak diizinkan makan lebih dari 500 kalori dalam sehari, yang tentunya terdengar sangat ekstrem, karena jauh dibawah yang dibutuhkan oleh tubuh atau direkomendasikan oleh para hali kesehatan.

Pada 2004, JoJo merilis album self-titled di bawah label rekaman Blackground yang didirikan oleh Barry Hankerson, pagan dari mendiang penyanyi Aaliyah. Saat itu, perempuan bernama lengkap Joanna Noelle Blagden Levesque merasa sangat senang mengetahui bahwa mimpinya menjadi kenyataan.

Dengan dirilisnya album self-titled, rekaman lagi JoJo telah terbukti sukses secara komersial. Album ini bahkan terjual lebih dari dua juta kopi di seluruh dunia, dengan beberapa single hit yang sering diputar, yaitu Leave (Get Out), Baby It’s You, dan Not That Kinda Girl.

Tidak lebih dari dua tahun kemudian, tepatnya pada 2006, JoJo merilis album kedua berjudul The High Road. Sejumlah single yang populer dari album ini diantaranya adalah Too Little Too Late, How To Touch A Girl, dan Anything.

Namun, setelah merilis The High Road, JoJo mulai memiliki banyak masalah dengan label rekamannya tersebut. Perempuan yang kini berusia 30 tahun itu merasa bahwa Blackground tidak lagi mendukung arah kreatifitasnya, di mana tidak ada indikasi bahwa album ketiga akan dirilis.

Melihat bahwa JoJo telah menandatangani kontrak multi-album di masa remajanya, ia tidak akan bisa keluar dari kontrak rekamannya sampai ia memenuhi kewajibannya kepada perusahaan. Sedikit yang ia tahu bahwa karirnya akan mengalami perubahan besar dan akibatnya mengakibatkan gangguan makan yang mengejutkan.

JoJo melihat kurangnya dukungan dari Blackground, yang terjebak dalam masalah keuangan tak ada habisnya. Namun, meski demikian, ini bukan salah JoJo.

Masalahnya adalah jika label tidak mampu mendanai sisa album yang diharapkan untuk diberikan kepada para penyanyi di bawah perusahaan itu, mereka mungkin akan dikeluarkan dari kontraknya dan harus mencari label rekaman baru di tempat lain. Dengan dua album di bawah Blackground, JoJo dalam sebuah wawancara dengan Uproxx pada 2020 mengatakan telah mengadakan pertemuan dengan sejumlah eksekutif dari label, yang menyindir bahwa dirinya tidak cukup sehat untuk keinginan mereka.

“Ketika saya berusia 18 tahun, saya ingat duduk di kantor Blackground, dan presiden label itu berkata, Kami hanya ingin Anda terlihat sesehat mungkin,’” ujar JoJo dalam wawancara tersebut, dilansir The Things, Rabu (21/7).

Menurut JoJo, saat itu Blackground lebih berfokus untuk menjadikannya tampil kurus, dibanding melakukan yang terbaik bagi kesejahteraan karirnya. Ia kemudian mengatakan bahwa label menolak untuk merilis album ketiga dan diminta bertemu dengan ahli gizi yang memberi saran untuk konsumsi kurang dari 500 kalori sehari.

“Saya akhirnya berhubungan dengan ahli gizi yang memberi saya diet 500 kalori sehari, dan saya menjalani suntikan yang membuat Anda tidak nafsu makan,” jelas JoJo.

JoJo mengatakan saat itu berusaha mencoba semaksimal mungkin, berpikir bahwa jika ia tampil dengan badan yang lebih ramping, perusahaan rekaman akan merilis album ketiganya. Namun, bagaimana Blackground kemudian semakin memperlakukannya dengan buruk membuat perempuan kelahir 20 Desember 1990 ini pada akhirnya lepas kendali.

“Saya merasa saya tidak cukup dan pasti tidak memuaskan,” kata JoJo.

Saat itu, joJo terjerumus dalam konsumsi obat-obat terlarang dan alkohol. Ia juga mendapatkan fakta bahwa Blackground telah menghentikan proyek lebih lanjut yang dirilis olehnya.

Pada akhir 2013, JoJo akhirnya dibebaskan dari kontrak dengan Blackground, dengan kesepakatan tercapai yang memungkinkan ia merilis karya baru di bawah label rekaman baru, Atlantic. Namun, ini membuat dua album pertamanya, yang dikeluarkan dari perusahaan dahulu tidak tersedia untuk streaming atau dibeli.

Berbicara tentang dua album pertamanya yang tidak bisa dirilis di Spotify karena masalah dengan Background, JoJo mengatakan bahwa saat ini telah merilis ulang album tersebut. Ia menyebut pada dasarnya lagu-lagu ini dengan versi dahulu tak pernah ada di platform itu.

“Jadi tidak ada masalah, orang-orang bisa kembali dan mengakses lagu saya kapanpun mereka mau,” kata JoJo.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA