Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Studi Sebut Lockdown tak Sebabkan Angka Kematian Tinggi

Rabu 21 Jul 2021 09:31 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Sejak awal pandemi, kritik terkait kebijakan lockdown muncul dari berbagai pihak.

Sejak awal pandemi, kritik terkait kebijakan lockdown muncul dari berbagai pihak.

Foto: AAP
Sejak awal pandemi, kritik terkait kebijakan lockdown muncul dari berbagai pihak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak awal pandemi, kritik terkait kebijakan lockdown bermunculan dari berbagai pihak. Sebagian pihak berpendapat bahwa intervensi tersebut menyebabkan lebih banyak kerusakan daripada penyakit Covid-19 sendiri.

Ada klaim bahwa lockdown mengakibatkan lebih banyak bahaya kesehatan. Dampak yang disebutkan termasuk tingkat kematian yang lebih tinggi, layanan kesehatan yang tidak bisa didapat, dan gangguan mental.

Baca Juga

Para peneliti menanggapi itu lewat sebuah studi analisis data kesehatan global. Analisis yang diterbitkan dalam jurnal BMJ Global Health itu meninjau data di berbagai negara yang memberlakukan pembatasan ketat maupun tidak.

Data kematian dengan berbagai penyebab dihimpun secara internasional, tepatnya dari 94 negara. Hasilnya, beberapa negara seperti Selandia Baru dan Australia yang menerapkan lockdown tidak mengalami lonjakan kasus kematian.

Hal sebaliknya terjadi di negara yang punya kebijakan lockdown lebih longgar. Brasil, Swedia, Rusia, dan beberapa bagian Amerika Serikat mencatat jumlah kasus kematian yang lebih tinggi selama pandemi.

Salah satu penulis studi, Profesor Gavin Yamey dari Duke Global Health Institute di Duke University, menyoroti bukti tersebut. Menurut Yamey, itu sudah mendukung gagasan bahwa upaya lockdown tidak sia-sia.

"Tampaknya negara-negara yang bertindak cepat dan agresif memiliki lebih sedikit kematian dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebuah studi lain menunjukkan bahwa lockdown mungkin juga telah mengurangi enam persen kematian tahunan akibat penularan flu," ungkapnya.

Riset yang digagas Yamey memang tidak dapat mengesampingkan bahaya yang disebabkan oleh lockdown atau menyimpulkan bahwa lockdown adalah upaya sempurna. Makalah tersebut juga tidak memasukkan dampak di bidang ekonomi.

Terkait akses layanan kesehatan, peneliti kesulitan mendukung pernyataan kausal secara memadai. Hal tersebut karena ada atau tidaknya lockdown di suatu wilayah, fasilitas kesehatan di seluruh dunia memang kewalahan.

Hal selanjutnya yakni hubungan antara kesehatan mental dan lockdown. Yamey sepakat bahwa lockdown berimbas buruk dalam hal ini. Sayangnya, keterkaitan pandemi Covid-19 skala besar dengan depresi dan kecemasan sering diabaikan.

Gangguan kesehatan mental juga bisa terjadi pada anak-anak. "Kehilangan kesempatan pergi ke sekolah jelas memengaruhi kesehatan mental anak-anak, tetapi begitu juga kehilangan orang yang dicintai karena Covid-19," kata dia.

Rekan peneliti kehormatan di Universitas Cardiff, Dean Burnett, tidak terlibat dalam analisis tetapi menanggapi hasilnya. Menurut Burnett, lockdown memang  memiliki sejumlah konsekuensi negatif bagi kesehatan mental, namun bukan berarti sepenuhnya buruk di tengah pandemi.

"Hanya ada sedikit bukti atau nyaris tidak ada yang mengatakan bahwa konsekuensi ini lebih buruk daripada apa yang akan kita lihat dalam situasi yang sama tanpa adanya lockdown. Jauh lebih mungkin bahwa kebalikannya akan benar," tuturnya, dikutip dari laman The Guardian, Rabu (21/7).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA