Tuesday, 9 Rajab 1444 / 31 January 2023

Studi: Kematian Covid-19 di India 10 Kali Lebih Tinggi

Rabu 21 Jul 2021 03:46 WIB

Rep: Meiliza Laveda/Lintar/Idelisa/ Red: Teguh Firmansyah

Kerabat berjas pelindung berdiri di samping tumpukan kayu bakar orang yang meninggal karena COVID-19, di sebuah krematorium di Srinagar, Kashmir yang dikendalikan India, Selasa, 25 Mei 2021.

Kerabat berjas pelindung berdiri di samping tumpukan kayu bakar orang yang meninggal karena COVID-19, di sebuah krematorium di Srinagar, Kashmir yang dikendalikan India, Selasa, 25 Mei 2021.

Foto: AP Photo/Dar Yasin
Sejumlah negara bagian merevisi jumlah pasien Covid dalam beberapa pekan terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID,  NEW DELHI -- Kelompok riset Amerika Serikat mengumumkan jumlah kematian akibat Covid-19 di India mencapai 10 kali lebih tinggi dari hampir 415 ribu yang dilaporkan oleh pihak berwenang. Jumlah ini menjadikan India tertimpa bencana kemanusiaan terburuk sejak kemerdekaan.

Perkiraan Studi Pusat Pengembangan Global mengatakan, lonjakan kematian tersebut dipicu dari varian Delta pada April dan Mei lalu. Studi yang menganalisis data dari awal pandemi hingga Juni tahun ini menunjukkan antara 3,4 juta dan 4,7 juta orang telah meninggal karena virus Covid-19.

Baca Juga

“Kematian yang sebenarnya mungkin berjumlah beberapa juta bukan beberapa ratusan ribu, membuat kondisi ini bisa disebut sebagai tragedi kemanusiaan terburuk di India sejak pemisahan dan kemerdekaan,” kata para peneliti, dikutip 24 Matins UK, Selasa (20/7).

Jumlah kematian Covid-19 resmi di India mencapai lebih dari 414 ribu. Angka tersebut menjadikan total kematian India tertinggi ketiga di dunia setelah Amerika Serikat 609 ribu kematian dan Brasil 542 ribu. Para ahli sudah curiga jumlah pasien meningkat terjadi selama berbulan-bulan dan ini mengakibatkan layanan kesehatan sangat kewalahan.

Beberapa negara bagian India telah merevisi jumlah pasien Covid-19 dalam beberapa pekan terakhir dengan menambahkan ribuan kematian. Laporan Pusat Pembangunan Global berdasarkan pada perkiraan kematian berlebih, jumlah orang tambahan yang meninggal dibandingkan dengan angka sebelum krisis.

Para penulis studi termasuk Mantan Kepala Penasihat Ekonomi India Arvind Subramanian yang menganalisis registrasi kematian di beberapa negara bagian dan studi ekonomi nasiona. Mereka juga membandingkan survei penyebaran Covid-19 di India dengan angka kematian internasional.

Para peneliti yang juga termasuk pakar Universitas Harvard memperkirakan kematian dengan keyakinan statistik itu sulit. “Akan tetapi semua perkiraan menunjukkan jumlah kematian akibat pandemi kemungkinan akan lebih besar dari jumlah resmi,” kata mereka.

Spesialis Demografi India di Institut Penelitian untuk Pembangunan Prancis, bulan ini memperkirakan jumlah kematian mendekati 2,2 juta pada akhir Mei. Tingkat kematian India per juta hampir setengah dari rata-rata dunia.

Guilmoto mengatakan angka yang begitu rendah bertentangan dengan keparahan krisis yang telah melanda sebagian besar keluarga India di seluruh negeri. Tim Guilmoto menyimpulkan hanya satu dari tujuh kematian akibat virus Corona yang tercatat.

Sebuah model oleh Institute for Health Metrics and Evaluation yang berbasis di Amerika Serikar memperkirakan jumlah korban Covid bisa lebih dari 1,25 juta. Kementerian Kesehatan India bulan lalu mengecam majalah The Economist karena menerbitkan sebuah cerita yang mengatakan kematian berlebih antara lima dan tujuh kali lebih tinggi dari jumlah resmi.

Mereka menyebut hal tersebut bersifat spekulatif dan disinformasi. Sebuah laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Mei mengatakan hingga tiga kali lebih banyak orang meninggal di seluruh dunia selama pandemi dari virus Corona atau penyebab lain daripada yang ditunjukkan oleh statistik resmi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA