Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

PPKM Darurat Diperpanjang 25 Juli, Epidemiolog: Tak Ideal

Rabu 21 Jul 2021 00:05 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo.

Foto: Dokumentasi Sekretariat Negara RI
Epidemiolog ragu dalam lima hari kondisi akan membaik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Epidemiolog Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono, menanggapi keputusan pemerintah yang memperpanjang masa pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat hingga 25 Juli nanti. Ia mengaku tak yakin dalam lima hari keadaan akan membaik.

“Saya tidak yakin selama lima hari keadaan akan membaik,” kata Tri kepada Republika.co.id, Selasa (20/7).

Menurut Tri, masih banyak orang yang menderita Covid-19 di berbagai kota. Sehingga akan ideal jika waktu PPKM Darurat diperpanjang berpekan-pekan seperti negara-negara lain.

“Kalau ingin menyelamatkan rakyat, harus melihat indikator pelayanan kesehatannya. Apakah saat ini sudah membaik? Sekarang masih banyak orang yang menderita Covid-19. Apakah kita akan membiarkan mereka tidak mendapat pelayanan? Saya sedih,” ujar dia.

Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Laura Navika Yamani, menilai selama masa perpanjangan PPKM Darurat yang singkat ini, pemerintah harus memiliki target yang jelas. “Yang terpenting adalah bagaimana pengendalian dari penyebaran kasus terus dilakukan selama lima hari dengan pembatasan mobilitas untuk penurunan penyebaran kasus,” ujar dia.

Menurut dia, indikator yang terpenting bukan dari penurunan kasus harian melainkan dari positivity rate atau rasio kasus warga terpapar virus korona di Indonesia. Sebab, positivity rate menggambarkan kemampuan jumlah pemeriksaan untuk menjaring dan menangkap kasus positif yang ada di masyarakat.

“Jadi kalau pun pemeriksaannya ditambah tapi indikator positivity rate naik, ini mengartikan jumlah pemeriksaan belum maksimal atau belum luas menjangkau di komunitas,” ucap dia. Dia menilai dalam waktu lima hari, sangat sulit untuk menurunkan indikator positivity rate.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA