Senin 19 Jul 2021 04:44 WIB

Bisnis Perbankan Digital Makin Menggiurkan

Digital banking di Indonesia makin menunjukkan tren mengembirakan

Rep: Vicky Rachman (swa.co.id)/ Red: Vicky Rachman (swa.co.id)
Ilustrasi bank digital (Foto: http://pakrevenue.com).
Ilustrasi bank digital (Foto: http://pakrevenue.com).

Aksi perusahaan (corporate action) berupa megamerger antara PT Tokopedia dan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) menjadi GoTo yang diumumkan pada 17 Mei 2021 menjadi buah bibir di berbagai kalangan. Salah satu lini bisnis GoTo yang disoroti adalah perbankan digital (digital banking) yang bakal digenjot GoTo di masa mendatang. GoTo mengumumkan akan menggabungkan layanan e-commerce, pengiriman barang, transportasi, dan keuangan, di antaranya layanan keuangan dan pembayaran, dengan mitra lebih dari 20 bank dan institusi keuangan.

Sebelumnya, sayap bisnis Gojek, yakni PT Dompet Karya Anak Bangsa, pada 18 Desember 2020 membeli saham PT Bank Jago Tbk. sebesar 22,16% dengan total nilai transaksi Rp 2,77 triliun. Kala itu, para pengamat memprediksi kehadiran GoPay di Bank Jago ini untuk memperkuat ekosistem perbankan digital dan mengintegrasikannya dengan layanan lainnya di Gojek. Investasi Gojek di Bank Jago merupakan bagian dari strategi bisnis jangka panjang yang akan memperkuat pertumbuhan dan keberlanjutan bisnis Gojek ke depan.

“Bank berbasis teknologi seperti Bank Jago akan memperkuat ekosistem Gojek sekaligus akan membuka akses yang lebih luas kepada layanan perbankan digital bagi masyarakat Indonesia. Hal ini sejalan dengan visi kedua perusahaan untuk mendorong percepatan inklusi keuangan di Indonesia,” tutur Andre Soelistyo, yang kini menjadi CEO Grup GoTo.

Pendapat senada disampaikan Kharim Siregar, Direktur Utama Bank Jago. “Kolaborasi strategis antara bank berbasis teknologi seperti Bank Jago dan super-app seperti Gojek merupakan yang pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Kolaborasi mendalam ini akan menjadi kunci pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dan bisa terus menjadikan Indonesia tuan rumah di negeri sendiri,” Kharim menerangkan.

Perbankan digital kian semarak seiring dengan ramainya akuisisi bank-bank kecil oleh perusahaan teknologi, e-commerce, konglomerasi usaha, hingga bank umum kelompok usaha (BUKU) IV bermodal inti lebih dari Rp 30 triliun. PT Bank Central Asia Tbk. pada 2019 menggelontorkan dana Rp 988 miliar untuk mengakuisisi saham PT Bank Royal Indonesia yang kemudian diubah menjadi PT BCA Digital. Rencananya, BCA Digital akan dirilis pada kuartal II tahun ini.

Kemudian, perusahaan e-commerce dari China, Alibaba, melalui PT Akulaku Silvrr Indonesia, membeli 24,98% saham PT Bank Yudha Bhakti Tbk. Kini, Bank Yudha Bhati diubah namanya menjadi PT Bank Neo Commerce Tbk. (BNC).

SEA Group, perusahaan induk Shopee, mengakuisisi PT Bank Kesejahteraan Ekonomi. Bank ini pada 10 Februari 2021 diubah namanya menjadi SeaBank (PT Bank Seabank Indonesia). Nantinya, SeaBank akan mengintegrasikan perbankan digital dengan dompet digital (ShoppePay) dengan layanan lainnya.

Bank kecil lainnya, PT Bank Harda International Tbk., dibeli oleh PT Mega Corpora untuk dijadikan bank digital. Mega Corpora membeli 73,71% saham Bank Harda. Perusahaan ini merupakan entitas bisnis CT Corp, kelompok usaha yang didirikan Chairul Tanjung.

Selain memperkuat ekosistem perbankan digital, agresivitas mencaplok bank mini itu juga mempertimbangkan perubahan perilaku konsumen yang cukup atraktif bertansaksi di layanan perbankan digital, serta bonus demografi.

Dirut BNC Tjandra Gunawan, menyebutkan, populasi produktif milenial usia 21-36 tahun di tahun 2020 berjumlah sekitar 63,5 juta jiwa. “Hal ini menjadikan milenial sebagai mesin pertumbuhan yang signifikan untuk perekonomian Indonesia. Di tengah resesi ekonomi yang terjadi saat ini, BNC ingin berpartisipasi mempercepat pemulihan ekonomi dengan menyasar generasi muda untuk semakin melek finansial dengan memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ungkap Tjandra.

BCA Digital juga sama. Bank ini menyasar segmen milenial serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ceruk pasarnya cukup besar.

Bank BUMN turut meramaikan bisnis perbankan digital, di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Indra Utoyo, Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI, mengatakan bahwa pihaknya menganggarkan investasi untuk pengembangan teknologi informasi (TI). “Nilainya Rp 3,5 triliun untuk melakukan transformasi digital dan TI,” ungkap Indra. Pengembangan ini dirancang untuk menopang perbankan digital agar perseroan kian optimal menangkap peluang pasar.

“Saat ini masih terdapat 51% unbanked population di Indonesia, ditambah dengan adanya akselerasi adopsi digital akan menjadi peluang yang besar akan pertumbuhan bank digital di Indonesia,” Indra menuturkan.

Sebagai gambaran, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan jumlah masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan (unbanked) mencapai 83 juta orang yang tergolong sebagai unbanked population. Kemudian, Kementerian Koperasi dan UKM mengestimasikan sekitar 26% dari 60 juta pelaku UMKM itu mendapatkan akses ke perbankan. Indra mengatakan, rendahnya akses UMKM terhadap layanan perbankan ini merupakan peluang emas untuk mengembangkan bisnis perbankan digital.

Berbagai langkah kolaborasi pun ditempuh perbankan dan perusahaan teknologi guna menggarap peluang pasar yang sangat besar ini. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), transaksi e-commerce pada kuartal I/2021 mencapai 548 juta transaksi senilai Rp 88 triliun. Peningkatan volume transaksi e-commerce mencapai 99% dan nominal transaksinya tumbuh 52% secara tahunan atau year on year (YoY).

Peningkatan tersebut cukup berpengaruh terhadap pertumbuan perbankan digital. Volume transaksi digital banking pada Januari-Maret 2021 mencapai 553,6 juta atau meningkat 42,47% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Adapun nilai transaksi mencapai Rp 3.025,6 triliun, melonjak 26,44%. BI memprediksi nilai transaksi perbankan digital pada 2021 naik 19% menjadi Rp 32 ribu triliun dari Rp 27 ribu triliun pada 2020.

Sejalan dengan transformasi sebagai bank digital, BNC merekrut talenta terbaik yang berpengalaman di dunia digital dan perbankan, serta mengembangkan budaya kerja neo culture untuk memacu budaya kerja kolaboratif yang nyaman. BNC juga mengembangkan teknologi dan digital security yang menjadi kunci untuk memastikan keamanan dan kenyamanan nasabah melalui kerjasama dengan perusahaan teknologi global, yaitu Huawei, Tencent Cloud, dan Sunline.

Ekosistem Kolaborasi

BRI, melalui anak usahanya, PT BRI Agroniaga Tbk., yang telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan PT Majoo (pengembang aplikasi wirausaha), menyodorkan layanan pengelolaan bisnis menyeluruh untuk UMKM, dengan lebih dari 15 ribu merchant yang tergabung dalam jaringannya. BRI Agro dan Majoo memberikan layanan perbankan untuk penyediaan fasilitas pinjaman. Rencananya, bentuk kerjasama lainnnya, akan dilakukan integrasi open API (Application Programming Interface) melalui platform dari Majoo, sehingga ke depan akan mempermudah sistem pembayaran bagi nasabah BRI Agro.

Sebelumnya, BRI Agro menjalin kemitraan dengan PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku). Kolaborasi bisnis ini merupakan langkah strategis BRI Agro untuk mewujudkan target sebagai House of Fintech and Home of Gig Economy guna memperluas akses permodalan bagi UMKM.

 Indra menilai inisiasi kerjasama dengan platform fintech lending yang dilakukan sejak tahun 2020 menunjukkan hasil yang positif. Karena itu, BRI Agro pada 2021 ini memperluas jangkauan kerjasama dengan beberapa fintech lainnya, termasuk Modalku. Menurutnya, lanskap kompetisi industri keuangan telah berubah, khususnya di industri layanan keuangan dan perbankan, karena kehadiran fintech dan bank digital.

Sementara itu, Tjandra mengungkapkan, masuknya Akulaku menjadi pemegang saham mayoritas BNC pada 2019 memperkuat bisnis dan layanan perbankan digital bank ini. “Selain Akulaku, kami juga terbuka dengan kerjasama dengan pelaku digital dan finansial ternama di Indonesia, karena kami menganut sistem open banking dengan semangat tumbuh bersama untuk mewujudkan inklusi finansial di Indonesia,” katanya.

Hingga saat ini, Akulaku memiliki sejumlah layanan lini keuangan, yakni bisnis pembiayaan peer-to-peer (P2P) lending lewat PT Pintar Inovasi Digital, lapak jual-beli online atau marketplace lewat Akulaku Silvrr Indonesia, dan perusahaan pembiayaan yang dikelola PT Akulaku Finance Indonesia. Adapun potensi pasar yang bisa digarap BNC terkait pelanggan Akulaku ini diestimasikan mencapai 7 juta nasabah. Pada 2020, BNC bertransformasi menjadi bank digital, dimulai dengan pergantian nama dari Bank Yudha Bakti menjadi Bank Neo Commerce yang dikukuhkan sebagai bank BUKU II oleh OJK.

Perbankan lainnya berancang-ancang untuk mempertebal eksosistem perbankan digital. Misalnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. yang merilis aplikasi Livin’ dan PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk. yang mengaloksikan dana IPO untuk menyokong transformasi menjadi bank digital.

Yang terbaru, Executive Chairman Grup MNC, Hary Tanoesoedibjo, segera mengakselerasi operasional Motion Digital, aplikasi bank digital. Aplikasi ini dikelola PT Bank MNC Internasional Tbk. Motion Digital dirancang sebagai ekosistem keuangan terintegrasi yang memiliki layanan uang elektronik (e-money), virtual credit card, dan pembiayaan channeling melalui skema P2P lending.

“Targetnya, dalam lima tahun ke depan, minimal ada 30 juta nasabah dari Motion Digital, akan mengoptimalkan konversi lebih dari 200 juta userbase MNC Group menjadi nasabahnya. Seluruh userbase MNC Group, termasuk televisi, portal, dan media sosial, mencapai lebih dari 200 juta userbase,” kata Harry dalam pernyataan tertulisnya. (*)

Anastasia Anggoro Suksmonowati & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan swa.co.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab swa.co.id.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement