Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

...

Kesetiaan Semu Pesepak Bola Bergaji Tinggi

Ahad 18 Jul 2021 16:06 WIB

Rep: Anggoro Pramudya/ Red: Endro Yuwanto

Penjaga gawang timnas Italia Gianluigi Donnarumma yang kini membela klub kaya Paris Saint-Germain (PSG).

Penjaga gawang timnas Italia Gianluigi Donnarumma yang kini membela klub kaya Paris Saint-Germain (PSG).

Foto: Facundo Arrizabalaga/Pool via AP
Lebih banyak pemain pragmatis yang siap pindah klub demi karier dan gaji tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Uang membunuh loyalitas, menyulap barang bernama kesetiaan menjadi hal yang tabu. Setidaknya pada era sepak bola modern saat ini.

"Sepak bola adalah bisnis dan para pemain hanyalah angka, tidak ada loyalitas dan itu menyedihkan," kata Kevin-Prince Boateng kepada Diario AS menjelaskan belum lama ini.

Adagium itu seakan menggambarkan era industri sepak bola. Dalam kutipannya, eks pemain AC Milan dan Barcelona ini secara tegas mengkritisi pemain muda yang sudah diganjar upah besar, namun merasa kurang dengan menuntut bayaran yang lebih tinggi kepada klub.

Dalam safari bursa transfer musim panas 2021 kali ini, beberapa pemain yang sudah dianggap sebagai ikon sebuah klub terpaksa angkat koper dari klub lamanya. Di samping durasi kontrak yang habis, beberapa pemain memilih pergi lantaran tergiur dengan komisi melangit klub baru.

Ada nama Gianluigi Donnarumma yang memilih pisah dari AC Milan untuk bergabung ke klub kaya Paris Saint-Germain (PSG), bek tengah Bayern Muenchen David Alaba yang hijrah ke Real Madrid di antara tuntutan gaji tinggi, serta Declan Rice yang tak betah di West Ham United. Pun terpajang nama Marc Klok di sela-sela rivalitas sengit Persija Jakarta dan Persib Bandung.

Komponen gaji menjadi pengeluaran terbesar klub sepak bola. Apalagi di kondisi tak menentu seperti saat ini (pandemi Covid-19). Mayoritas klub lantas mengambil langkah dengan melakukan pemotongan gaji.

Banyak kesebelasan Eropa melakukan pemotongan gaji secara besar-besaran, seperti Barcelona, Arsenal, Juventus, dan AC Milan. Juventus yang musim lalu menganggarkan 294 juta euro untuk gaji, turun menjadi 236 juta euro per musim 2020/2021.

Sejumlah klub sedang melakukan penghematan. Pandemi Covid-19 menimbulkan krisis ekonomi. Sepak bola juga terdampak. Namun, ekspresi berbeda justru datang dari para pemain kulit bundar.

Mereka ramai-ramai meminta kenaikan gaji plus bonus dalam perannya membantu tim selama durasi masa kontrak. Itu seakan memeras sebuah kesebelasan yang di lain sisi tengah bertarung menghadapi badai pandemi Covid-19.

Sementara itu, kesenjangan gaji yang cukup luas di Serie A Liga Italia membuat klub terbagi menjadi dua, si kaya dan miskin. Di Ligue 1 Prancis, PSG adalah cerita berbeda dari banyaknya klub Eropa yang harus berhati-hati dengan aturan Financial Fair Play (FFP).

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA