Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Mengejar Herd Immunity, Klaster Covid Baru yang Didapat

Senin 19 Jul 2021 05:16 WIB

Red: Joko Sadewo

Warga antre mengikuti vaksinasi COVID-19 di Gedung Bina Satria, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (17/7/2021). -Foto ilustrasi-

Warga antre mengikuti vaksinasi COVID-19 di Gedung Bina Satria, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (17/7/2021). -Foto ilustrasi-

Foto: Antara/Bayu Pratama S
Pelaksanaan vaksinasi justru seringkali memunculkan kerumunan.

Oleh : Christianingsih, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Pemerintah menetapkan target ambisius untuk bisa memvaksin dua juta orang per hari pada Agustus mendatang. Di berbagai daerah, vaksinasi massal pun digencarkan demi terciptanya herd immunity sesegera mungkin.

Akan tetapi program vaksinasi massal yang digulirkan nampaknya belum berjalan semulus yang dibayangkan. Di banyak tempat kita masih melihat program vaksinasi justru menimbulkan kerumunan massa. Tingginya antusiasme masyarakat untuk mendapatkan vaksin adalah kabar baik. Namun di sisi lain euforia itu rupanya belum dibarengi sistem yang mumpuni.

Keterbatasan jumlah vaksinator serta titik vaksinasi menyebabkan munculnya kerumunan warga yang antre untuk divaksin. Hal ini sangat disayangkan apalagi dengan munculnya varian Delta yang lebih mudah menular sehingga makin memungkinkan timbul klaster Covid-19.

Kita melihat bagaimana ribuan warga antre berdesakan tanpa jarak saat hendak divaksin, terutama di lokasi yang berdaya tampung besar seperti gelanggang olahraga (GOR). Penulis juga sempat melihat beberapa unggahan warganet di media sosial, yang mengeluhkan terciptanya kerumunan ketika sedang mengantre nomor urut vaksin walau sudah datang sejak subuh.

Pemandangan itu kontras dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang mengharuskan masyarakat menghindari kerumunan. Target memvaksinasi warga sebanyak mungkin seharusnya juga dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan 5M ketat seperti yang digembar-gemborkan selama ini. Jangan lupa, orang yang telah mendapat vaksin lengkap tidak dijamin 100 persen kebal virus. Ia masih bisa tertular maupun menularkan.

Penyuntikan vaksin tanpa menciptakan kerumunan salah satunya dapat dilakukan dengan mengoptimalkan layanan kesehatan. Di samping puskesmas atau rumah sakit, pemerintah mungkin dapat memanfaatkan klinik pratama, klinik utama, dan rumah vaksin sebagai lokasi vaksinasi Covid-19.

Menukil data dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan, pada 2018 Indonesia memiliki 7.917 klinik pratama. Tiga provinsi dengan jumlah klinik pratama terbanyak adalah Sumatera Utara (959), Jawa Tengah (919), dan Jawa Barat (850). Makin banyak titik vaksinasi tak hanya mengurangi potensi kerumunan, tapi juga mempermudah akses warga memperoleh vaksin.

Terobosan sudah dilakukan di DKI Jakarta dengan adanya 16 unit mobil vaksin keliling. Keberadaan mobil tersebut setidaknya dapat sedikit memecah penumpukan warga yang ingin divaksin. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkapkan target vaksinasi di Jakarta yang ditetapkan Presiden Jokowi mencapai 8,8 juta orang pada akhir bulan depan.

Di samping itu, Badan Intelijen Negara (BIN) juga ikut meluncurkan metode vaksinasi door to door. Kepala BIN Budi Gunawan mengatakan sistem tersebut mengadopsi metode yang digunakan beberapa negara yang telah mampu meningkatkan partisipasi vaksinasi.

Mengejar target herd immunity juga bukan cuma soal banyaknya orang yang divaksin. Target itu tak bisa lepas dari kecukupan stok vaksin, distribusi vaksin yang lancar dan merata, serta jumlah vaksinator yang memadai. Semoga ikhtiar vaksinasi dibarengi dengan perbaikan sistem yang makin profesional agar ibu pertiwi tak bersusah hati lebih lama lagi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA