Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Banjir Bandang di Jerman Tanda Bahaya Perubahan Iklim?

Sabtu 17 Jul 2021 23:08 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

 Seorang pengemudi mengemudikan mobilnya di atas jalan di Rhine yang telah banjir dan ditutup oleh air pasang di Ruedesheim, Jerman. Para ahli khawatir cuaca ekstrem menunjukkan iklim telah melewati ambang batas bahaya.

Seorang pengemudi mengemudikan mobilnya di atas jalan di Rhine yang telah banjir dan ditutup oleh air pasang di Ruedesheim, Jerman. Para ahli khawatir cuaca ekstrem menunjukkan iklim telah melewati ambang batas bahaya.

Foto: AP/Boris Roessler/DPA
Para ahli khawatir cuaca ekstrem menunjukkan iklim telah melewati ambang batas bahaya

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Intensitas dan skala banjir di Jerman pekan ini telah mengejutkan para ilmuwan iklim. Mereka yang tidak menyangka rekor banjir besar terjadi wilayah yang begitu luas dan berlangsung cepat.

Banjir di Eropa tengah telah menimbulkan kekhawatiran gangguan iklim yang disebabkan oleh manusia membuat cuaca ekstrem menjadi lebih buruk dari yang diperkirakan. Ilmuwan iklim telah lama meramalkan emisi manusia akan menyebabkan lebih banyak bencana banjir, gelombang panas, kekeringan, badai, dan cuaca ekstrem lainnya.

“Saya terkejut cuaca ekstrem ini telah mencapai di atas rekor sebelumnya,” ujar profesor klimatologi dan hidrologi perubahan global di Postdam Institute for Climate Impact Research, Dieter Gerten, dilansir The Guardian pada Sabtu (17/7).

Gerten tumbuh di sebuah desa, di daerah yang terkena bencana. Dia mengatakan desa tempat tinggalnya memang terkadang dilanda banjir, tetapi tidak ekstrem seperti yang terjadi pekan ini.  

"Peristiwa pada pekan ini benar-benar tidak biasa untuk wilayah itu. Itu berlangsung lama dan memengaruhi area yang luas,” jelas Gerten.

Para ilmuwan mengatakan mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk menilai sejauh mana emisi manusia menyebabkan cuaca ekstrem. "Dengan perubahan iklim, kami berharap semua hidrometeorologi ekstrem menjadi lebih ekstrem. Apa yang telah kita lihat di Jerman secara luas konsisten dengan tren ini," kata Direktur Layanan Perubahan Iklim Copernicus di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa, Carlo Buontempo.

Curah hujan tinggi terjadi lembah Rhine pada Rabu. Ratusan orang tewas, puluhan ribu rumah terendam banjir, serta pasokan listrik terganggu.

Curah hujan tinggi juga terjadi di wilayah Rhineland-Palatinate dan North Rhine-Westphalia. Wilayah itu dilanda hujan 148 liter per meter persegi dalam waktu 48 jam. Biasanya curah hujan di wilayah tersebut sekitar 80 liter per meter persegi selama Juli.

Kota Hagen mengumumkan keadaan darurat setelah sungai Volme meluap dan airnya naik ke level tinggi. Rekor hujan paling mencolok terjadi di stasiun Koln-Stammheim, dengan curah hujan 154mm selama 24 jam. Sebelumnya curah hujan hanya 95mm.

Selain Jerman, curah hujan tinggi juga terjadi di pinggiran kota Tokyo dan London. Peristiwa yang biasanya terjadi sekali dalam 100 tahun, kini menjadi peristiwa yang biasa.

Beberapa ahli khawatir cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan iklim telah melewati ambang batas yang berbahaya. Para ilmuwan melakukan penelitian apakah tren tersebut semakin nonlinier sebagai akibat dari efek tak terduga dari kekeringan atau pencairan es di Kutub Utara.  

“Kita perlu memodelkan peristiwa nonlinier dengan lebih baik. Kami para ilmuwan dalam beberapa tahun terakhir telah dikejutkan oleh beberapa peristiwa yang terjadi lebih awal, lebih sering, dan lebih intens dari yang diperkirakan," ujar Gerten.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA