Jumat 16 Jul 2021 20:36 WIB

MPLS Daring, Perpeloncoan Hilang, Siswa Baru Senang

MPLS yang digelar secara daring lebih bermanfaat karena memberikan materi informatif.

Peserta Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Blitar mengikuti pembelajaran secara daring dari rumahnya di Blitar, Jawa Timur, Senin (12/7/2021).
Foto: ANTARA/Irfan Anshori
Peserta Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Blitar mengikuti pembelajaran secara daring dari rumahnya di Blitar, Jawa Timur, Senin (12/7/2021).

REPUBLIKA.CO.ID, Layar laptop berukuran 14 inci menerangi wajah seorang remaja putri yang duduk di depannya. Di kamar berukuran 2x3 meter, remaja putri bernama Kazia Azka (12 tahun) itu ditunjuk menjadi pembaca acara Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di tempat ia menimba ilmu, SMP Islam Terpadu (SMPIT) Assalam, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. MPLS yang digelar selama tiga hari dan berlangsung secara online itu diakui Kazia memberikan pengalaman tersendiri lantaran menjadi pemandu adik-adik kelasnya masuk ke lingkungan baru.

Di ruang tamu rumahnya ketika saya ajukan pertanyaan, Rabu (14/7), siswi kelas 9 ini mengaku senang bisa ikut membantu sekolahnya dalam acara MPLS. Ini adalah kali kedua Kazia menjadi pembawa acara, karena tahun sebelumnya MPLS yang juga berlangsung secara online, dia juga ditunjuk menjadi pembawa acara oleh guru pembimbing OSIS.

Selama MPLS itu, siswa baru di SMPIT Assalam disuguhkan berbagai hal tentang lingkungan sekolah. Mulai dari sambutan kepala sekolah, foto-foto hingga video suasana sekolah. Meski tidak hadir secara langsung, hal itu setidaknya mengobati kerinduan para siswa untuk bisa hadir di sekolah barunya. "Ada sesi adik-adik kelas bertanya di acara MPLS itu," kata Kazia.

Anak pertama dari tiga bersaudara itu berpendapat, MPLS penting karena memberikan pengetahuan bagi murid-murid untuk mengenal lingkungan barunya. "Senang ikut menjadi bagian dari MPLS itu, walau deg-degan sedikit sih," ucap Kazia.

photo

Guru dan anggota yayasan SMP Lazuardi Kamila Global Compassianote School (SCS) melakukan MPLS secara daring di Solo, Jawa Tengah, Senin (4/1/2021). (Antara/Maulana Surya)

 

 

Terpisah puluhan kilometer, seorang siswa SMP mengutarakan perasaannya mengikuti MPLS. Menjadi peserta MPLS diakui Aulia Fathimah Az-Zahra (12) cukup menyenangkan. Siswi SMP Cawang Baru itu saat dihubungi via pesan singkat menuturkan meski MPLS di sekolahnya digelar secara daring ia mengaku senang lantaran bisa mengenal sekolah baru dan lingkungan baru. Termasuk mengenal guru dan teman-teman barunya.

Remaja yang sehari-hari disapa Aya itu berkata dengan mengikuti MPLS dia mendapatkan banyak manfaat. Termasuk pengetahuan baru sebelum nantinya ia pergi ke sekolah. "Seneng ikut MPLS, karena bisa kenal sama teman di sekolah baru, kakak kelas baru, guru-guru baru dan lingkungan sekolah yang baru," kata anak bungsu dari tiga bersaudara ini.

Lewat pesan singkat pula saya mencoba menghubungi Psikolog dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Sutarimah Ampuni S. Psi, M. Si untuk meminta penjelasan soal apakah MPLS masih relevan digelar, apalagi di tengah situasi pandemi Covid-19. Dari Yogyakarta via pesan WhatsApp, Sutarimah menjelaskan MPLS meskipun online jelas masih bermanfaat. Karena masuk ke sekolah baru itu ibarat masuk ke wilayah yang tidak dikenal sebelumnya, sehingga siswa perlu dikenalkan dengan wilayah itu, bukan cuma dengan lingkungan fisik tetapi juga budaya, ekspektasi terhadap perilaku siswa, dan sebagainya.

"Justru karena sekolahnya berlangsung online dan siswa belum akan bertatap muka secara fisik, maka MPLS makin diperlukan," ucap dia.

MPLS akan memberikan pengenalan dan orientasi kepada siswa. Karena itu, seharusnya MPLS memberikan pengetahuan kepada siswa mengenai “rumah barunya". Seperti apa saja yang tersedia di rumah baru tersebut, siapa saja orang-orangnya (kepala sekolah, guru, staf, dan lain-lain) yang akan ditemui, hingga siapa saja teman-temannya.

Selain itu, MPLS juga memberikan nilai-nilai seperti apa yang ditekankan oleh sekolah, akan memandu perilaku siswa, aturan-aturan di sekolah, dan sebaginya. MPLS juga bermanfaat membangkitkan motivasi siswa untuk memasuki jenjang pendidikan yang baru. "Jadi mungkin bisa dibilang MPLS menjadi semacam navigasi pertama bagi siswa yang akan memberi pengetahuan ke mana siswa akan melangkah di sekolahnya yang baru," ucap dia.

Sayangnya tidak semua siswa baru menyambut gembira MPLS di masa pendemi ini. Seperti yang dialami Devina Choirani Putri (15), siswi Kelas X IPS1 Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 26 Tebet, Jakarta Selatan yang mengaku sekolah tidak menarik seperti dulu, meski ia mengakui mendapatkan banyak ilmu dari MPLS.

Kepada saya lewat pesan WhatsApp, Devina mengakui MPLS menjadi hal baru yang baru lulus dari SMP sebagai angkatan pandemi. Penyebabnya menurut Devina karena tidak ada acara kelulusan, acara perpisahan, dan foto kelulusan dengan medali di hari kelulusan. "Benar-benar berbeda 180 derajat," kata Devina.

Putri pertama dari tiga bersaudara itu pun mengaku perasaannya mengikuti MPLS di era pandemi sekarang campur aduk. "Sedih, sedikit, sedikit bahagia, sedikit deg-degan," ucap dia. Meski begitu ia mengaku bersyukur bisa lolos dalam tahap seleksi PPDB untuk masuk ke SMA negeri yang dituju, hingga mengikuti kegiatan MPLS dari Senin hingga Jumat.

"Alhamdulillah kegiatan MPLS-nya sangat menarik," ucap Devina yang berdomisili di Tebet itu. Selama MPLS banyak sekali narasumber dan motivator yang membimbing pelaksanaan acara dengan baik, lalu kakak-kakak OSIS dan PK SMA 26 Jakarta juga sangat baik dan hangat, guru-guru, dan staf sekolah yang sangat memperhatikan siswa baru di SMA.

"Terima kasih banyak," ucap Devina seraya berharap bisa ikut lebih banyak kegiatan bermanfaat lainnya setelah masa MPLS berakhir di SMA Negeri 26 Jakarta.

Tak hanya sampai di sana, Devina juga mengakui mendapatkan banyak manfaat dari mengikuti kegiatan MPLS. Salah satunya pengalaman public speaking yang semakin terasah, seperti berani untuk berbicara atau menyampaikan pendapat di depan umum.

Selama MPLS pun Devina aktif bertanya dan menyampaikan jawaban dari setiap pertanyaan yang dilempar kepada siswa-siswi MPLS, baik oleh guru ataupun narasumber dan motivator. "Sehingga menurut aku itu sangat membantu melatih rasa berani di dalam diri siswa-siswi atau berlian-berlian SMA 26 Jakarta, seperti aku contohnya," ucap Devina.

Tak hanya public speaking, Devina mengutarakan mengikuti kegiatan MPLS menambah wawasan baru. Ia merawikan saat MPLS para peserta mendapatkan sejumlah materi yang bermanfaat, di antaranya "Wawasan Wiyata Mandala" yang disampaikan Wakil Kesiswaan SMAN 26 Jakarta, materi "Pendidikan di Era New Normal" yang disampaikan motivator, dan materi "Hidup Sehat Tanpa Narkoba, Hidup Sehat di Masa Pandemi Covid-19" yang disampaikan motivator dari puskesmas.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan teknologi (Kemendikbudristek) mengimbau pelaksanaan MPLS pada awal Tahun Ajaran Baru 2021/2022 menyesuaikan kondisi pandemi dan...

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement