Thursday, 25 Syawwal 1443 / 26 May 2022

Rusia: Taliban Ingin Perkuat Posisi, Bukan Rebut Kekuasaan

Kamis 15 Jul 2021 12:22 WIB

Red: Nur Aini

Rusia prihatin atas eskalasi kekerasan di Afghanistan, tetapi menyangsikan bahwa Taliban akan merebut kekuasaan di negara itu.

Rusia prihatin atas eskalasi kekerasan di Afghanistan, tetapi menyangsikan bahwa Taliban akan merebut kekuasaan di negara itu.

Rusia bisa mengadakan perundingan damai intra-Afghanistan musim panas ini

 

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia prihatin atas eskalasi kekerasan di Afghanistan, tetapi menyangsikan bahwa Taliban akan merebut kekuasaan di negara itu. Hal itu diungkapkan utusan presiden Rusia untuk Afghanistan.

Baca Juga

Menurut Zamir Kabulov, bentrokan paling aktif terjadi di provinsi-provinsi utara yang berbatasan dengan negara-negara Asia Tengah yang merupakan sekutu dan mitra Rusia.

“Dalam beberapa hari terakhir, intensitas bentrokan telah meningkat seiring penarikan pasukan Amerika dan NATO yang hampir selesai. Situasi ini membuat kami khawatir. Pada saat yang sama, kami percaya bahwa tidak ada bahaya perebutan kekuasaan oleh gerakan Taliban hari ini," kata dia dalam sebuah wawancara dengan Anadolu Agency.

Dia menekankan bahwa bentrokan terutama terjadi hanya di daerah perdesaan, meskipun mereka berada dalam "pengepungan ketat".

“Tujuan Taliban adalah memperkuat posisi mereka sebelum dimulainya negosiasi damai. Taliban menyadari konsekuensi negatif dari skenario kekuatan untuk berkuasa dan tidak tertarik pada implementasinya. Mereka sudah menyatakan niat mereka untuk mencapai rekonsiliasi melalui negosiasi, termasuk saat kontak dengan kami," kata diplomat itu.

Rusia telah mengambil langkah-langkah untuk mencegah penyebaran bentrokan dari Afghanistan ke negara-negara tetangga dan masalah ini dibahas langsung dengan Taliban selama kunjungan mereka ke Moskow. Kabulov menekankan kembali kepada Kementerian Pertahanan tentang kemungkinan penguatan pangkalan militer Rusia di Tajikistan. Namun, dia berharap "Rusia akan menggunakan semua peluang yang ada untuk mencegah eskalasi ketegangan dari wilayah utara Afghanistan ke wilayah sekutunya di Asia Tengah".

Dia juga mengakui dirinya skeptis tentang gagasan penempatan sementara pasukan AS di negara-negara Asia Tengah. Menurut Kabulov, proses penarikan pasukan AS dari Afghanistan seharusnya tidak berubah menjadi relokasi infrastruktur militer AS ke negara-negara tetangga.

“Selama 20 tahun kampanye AS dan NATO di Afghanistan telah membuktikan bahwa kehadiran pangkalan militer Amerika tidak berkontribusi untuk memperkuat stabilitas dan keamanan di kawasan," ujar dia.

Situasi di Afghanistan berkembang sangat dinamis, dan Moskow sebagai pemain aktif seharusnya bisa menjadi tuan rumah acara intra-Afghanistan yang bertujuan mendorong perundingan damai, tambah Kabulov.

"Kami tidak menutup kemungkinan untuk menggelar pertemuan di Moskow dalam waktu dekat, termasuk dalam kerangka 'troika' yang diperluas (yang terdiri dari Rusia, AS, China, dan Pakistan) serta format konsultasi Moskow tentang Afghanistan," kata dia.

Rusia menentang misi militer Turki menjaga bandara Kabul 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA