Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

PB IDI Belum Dapat Jadwal Vaksin Covid-19 Dosis Ketiga

Rabu 14 Jul 2021 13:39 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Ratna Puspita

Pemerintah telah menetapkan tenaga kesehatan (nakes) mendapatkan vaksin Covid-19 dosis ketiga menggunakan Moderna dan telah didatangkan ke Tanah Air. Kendati demikian, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengaku belum mendapatkan jadwal vaksin Covid-19 dosis ketiga dari pemerintah hingga Rabu (14/7) hari ini. (Foto: Tiga botol vaksin COVID-19 Moderna)

Pemerintah telah menetapkan tenaga kesehatan (nakes) mendapatkan vaksin Covid-19 dosis ketiga menggunakan Moderna dan telah didatangkan ke Tanah Air. Kendati demikian, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengaku belum mendapatkan jadwal vaksin Covid-19 dosis ketiga dari pemerintah hingga Rabu (14/7) hari ini. (Foto: Tiga botol vaksin COVID-19 Moderna)

Foto: EPA-EFE/MICHAEL SOHN
IDI juga belum diminta bersiap mengikuti vaksinasi Covid-19 dosis ketiga.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah telah menetapkan tenaga kesehatan (nakes) mendapatkan vaksin Covid-19 dosis ketiga menggunakan Moderna dan telah didatangkan ke Tanah Air. Kendati demikian, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengaku belum mendapatkan jadwal vaksin Covid-19 dosis ketiga dari pemerintah hingga Rabu (14/7) hari ini.

"Belum (dapat jadwal vaksin Covid-19)," ujar Wakil Ketua Umum PB IDI Slamet Budiarto saat dihubungi Republika.

Baca Juga

IDI juga belum diminta untuk bersiap mengikuti vaksinasi Covid-19 dosis ketiga. Slamet menegaskan, PB IDI akan mengikuti pemerintah.

Terpisah, Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih menambahkan, IDI masih menunggu jadwal vaksinasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). "Mudah-mudahan dalam waktu dekat," katanya.

Daeng menambahkan, IDI menyambut baik tenaga kesehatan mendapatkan vaksin Covid-19 dosis ketiga. Sebab, beberapa negara seperti Turki sudah memberlakukan suntik vaksin ketiga atau booster untuk meningkatkan antibodi dalam tubuh. 

Dia mengatakan, para ahli mensinyalir setelah 6 bulan antibodi akan menurun sehingga butuh suntikan penguat (booster) untuk menjaga antibodi tetap tinggi dalam tubuh. 

Terkait merk vaksin yang berbeda dengan vaksin yang diterima saat dosis pertama dan kedua, Daeng mengaku beberapa negara seperti Jerman, Inggris, Kanada melakukan vaksin kombinasi yang berbeda merk dan hasilnya baik. "Jadi, saya kira tidak masalah beda merk asal sudah terjamin safety dan efikasinya," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, vaksin Covid-19 Moderna akan digunakan untuk vaksinasi Covid-19 dosis ketiga. Budi mengatakan, hal tersebut berdasarkan rekomendasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

"Sudah disetujui vaksinasi (Covid-19) ketiga akan diberikan menggunakan vaksin Moderna sehingga dengan demikian bisa memberikan kekebalan maksimal terhadap variasi-variasi mutasi virus yang ada," kata Budi dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (9/7). 

Budi mengatakan, penyuntikan vaksin Covid-19 dosis ketiga ini hanya diberikan kepada tenaga kesehatan, mengingat nakes merupakan kelompok yang paling berisiko tertular virus ini.

photo
Abdala, vaksin Kuba pesaing Pfizer dan moderna - (republika)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA