Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

Mengapa Upaya Batin dan Syari Hadapi Covid-19 Juga Penting?

Rabu 14 Jul 2021 06:23 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Nashih Nashrullah

Upaya menghadapi Covid-19 ditempuh lahir dan batin. Berdoa. Ilustrasi

Upaya menghadapi Covid-19 ditempuh lahir dan batin. Berdoa. Ilustrasi

Foto: Thoudy Badai/Republika
Upaya menghadapi Covid-19 ditempuh lahir dan batin

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perkembangan dunia kedokteran di abad ini mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Dibanding masa klasik, yang segala sesuatunya serba manual.  

Untuk itu penanganan penyakit membutuhkan waktu yang cukup lama. Adapun sekarang, diagnosa bisa dilakukan dengan cepat dan akurasinya lumayan tinggi. Begitu pula pengobatannya. 

Baca Juga

"Lompatan teknologi kedokteran ini merupakan karunia Allah yang wajib disyukuri. Alhamdulillah, Islam bukan agama yang anti teknologi. Bahkan sangat mendukung pengembangannya. Terlebih bila bermanfaat untuk maslahat umat manusia," kata Pengasuh Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga sekaligus dosen Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyyah Imam Syafi'i Jember, Ustadz Abdullah Zaen Lc,MA dalam keterangan tertulisnya kepada Republika.co.id, Rabu (14/7). 

Ustadz mengatakan, dalam Islam, penanganan sebuah permasalahan menggunakan dua pendekatan, Pertama, pendekatan syari dan kedua pendekatan materi. 

Dia menyebutkan, terkait penanganan wabah Covid-19, contoh sarana syarinya adalah taubat, tawakal, doa, dzikir dan yang semisal. Dalil-dalil Alquran dan sunnah menjelaskan bahwa berbagai langkah tersebut bila dijalankan, akan mencegah dan mengakhiri bencana. Dengan izin Allah SWT. 

“Sedangkan usaha materi lahiriahnya adalah mencuci tangan menggunakan sabun, mengenakan masker, menciptakan vaksin dan yang serupa," kata dia.  

Ustadz Abdullah mengungkapkan, tidak ada kontradiksi antara dua pendekatan itu. Namun ini bisa direalisasikan bersamaan. Lalu dari dua pendekatan tersebut, yang efeknya lebih dahsyat yakni pendekatan syari. 

"Mengapa demikian? Karena langkah-langkah syari itu bersumber dari wahyu Allah SWT Alquran dan Hadits. Yang tidak mungkin dan tidak pernah keliru," kata Ustadz lulusan S2 jurusan Aqidah, Universitas Islam Madinah ini sembari menguti ayat Al Baqarah ayat 147: 

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

"Kebenaran itu dari Tuhanmu. Maka jangan sekali-kali engkau termasuk golongan yang meragukannya." 

Sedangkan upaya-upaya lahiriah, dasarnya adalah eksperimen manusia. Ijtihad yang berpeluang untuk keliru. Hal ini diakui, bahkan oleh para ahli sekalipun. Walau prosentase kekeliruannya bisa besar atau kecil. Namun peluang salah itu tetap ada. 

"Jadi, prioritaskanlah pendekatan syari. Namun jangan tinggalkan langkah-langkah lahiriah. Yakinlah, bahwa Allah akan segera mengakhiri masa-masa sulit ini!," kata ustadz Abdullah seraya menukilkan pesan Rasulullah ﷺ berikut: 

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ "Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak serius dan lalai" (HR Tirmidzi).  

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA