Tuesday, 6 Zulhijjah 1443 / 05 July 2022

Erdogan Lakukan Sambungan Telepon dengan Presiden Israel

Selasa 13 Jul 2021 23:02 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara setelah rapat kabinetnya di Ankara, Turki, Senin, 17 Mei 2021.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara setelah rapat kabinetnya di Ankara, Turki, Senin, 17 Mei 2021.

Foto: Mustafa Kamaci/Turkish Presidency via AP
Erdogan menegaskan sikapnya tak akan bungkam atas penindasan Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Kantor Kepresidenan Turki melaporkan Presiden Recep Tayep Erdogan melakukan sambungan telepon dengan Presiden Israel Isaac Herzog. Percakapan antara dua kepala negara yang hubungannya sedang renggang ini jarang terjadi.

Sambungan telepon tersebut dilakukan setelah Erdogan berbicara dengan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas. Selama 18 tahun berkuasa Erdogan lebih mendukung tujuan Palestina.

Baca Juga

Selasa (13/7) Alarabiya melaporkan kantor Kepresidenan Turki mengatakan dalam percakapan tersebut Erdogan mengatakan pada Abbas, Turki tidak 'akan bungkam pada penindasan Israel di Palestina'. Mengenai konflik yang pecah di Gaza pada awal tahun ini, Erdogan menuduh Israel menggelar aksi 'terorisme'.

Ia berjanji untuk mengerahkan seluruh dunia untuk mempertahankan wilayah tersebut. Selama berbicara dengan Herzog, Erdogan menekankan pentingnya hubungan Turki-Israel untuk keamanan dan stabilitas di Timur Tengah.

Kantor Kepresidenan Turki menambahkan dalam kesempatan itu Erdogan juga menekankan pentingnya dialog antar dua negara walaupun berbeda pendapat. Erdogan juga mengatakan masyarakat internasional berharap  konflik Israel-Palestina diselesaikan dengan solusi dua negara yang permanen dan komprehensif dalam dengan kerangka resolusi PBB'.

Namun Erdogan mengatakan kedua negara berpotensi melakukan kerjasama dibidang energi, pariwisata, dan teknologi. Hubungan kedua negara memburuk sejak organisasi non-profit Turki mengawasi kapal yang mencoba membobol blokade Israel di Jalur Gaza pada 2010 lalu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA