Selasa 13 Jul 2021 22:41 WIB

PBB: Afghanistan di Ambang Krisis Kemanusiaan

Taliban menguasai lebih banyak wilayah Pascakeluarnya Amerika Serikat

Taliban menguasai lebih banyak wilayah Pascakeluarnya Amerika Serikat. Ilustrasi: Serangan bom di Afghanistan
Foto: Anadolu Agency
Taliban menguasai lebih banyak wilayah Pascakeluarnya Amerika Serikat. Ilustrasi: Serangan bom di Afghanistan

IHRAM.CO.ID, JENEWA—  Lebih banyak warga Afghanistan kemungkinan akan meninggalkan rumah mereka akibat meningkatnya kekerasan, kata badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ketika Taliban menguasai lebih banyak wilayah usai penarikan pasukan asing pimpinan Amerika Serikat dari negara itu.

"Afghanistan berada di ambang krisis kemanusiaan lainnya. Ini dapat dihindari. Ini harus dihindari," kata juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Babar Baloch, pada konferensi pers di Jenewa, Selasa (13/7).

Baca Juga

"Kegagalan untuk mencapai kesepakatan damai di Afghanistan dan menghentikan kekerasan saat ini akan memicu perpindahan (orang) di negara itu, serta ke negara-negara tetangga dan lainnya," tambahBaloch.

UNHCR mengatakan sekitar 270 ribu warga Afghanistan baru saja mengungsi di dalam negeri sejak Januari, sehingga jumlah penduduk yang terpaksa meninggalkan rumah mereka menjadi lebih dari 3,5 juta orang.

Mereka yang terpaksa melarikan diri menyalahkan situasi keamanan, insiden pemerasan oleh kelompok bersenjata non-negara, dan bom rakitan di jalan-jalan utama, selain hilangnya pendapatan dan gangguan layanan sosial, kata Baloch.

Jumlah korban sipil telah meningkat sebesar 29 persen selama kuartal pertama dibandingkan dengan tahun 2020, kata UNHCR, mengutip angka dari Misi Bantuan PBB di Afghanistan.

"Kami mendesak masyarakat internasional untuk meningkatkan dukungan kepada pemerintah dan rakyat Afghanistan dan tetangganya pada saat yang kritis ini," kata Baloch.

Jenderal Amerika Serikat yang memimpin perang di Afghanistan, Austin Miller, melepaskan komandonya dalam sebuah upacara di ibu kota Kabul pada Senin (12/7), dan diam-diam meninggalkan negara itu, sebagai simbol berakhirnya konflik terpanjang Amerika Serikat.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah mengakui bahwa masa depan Afghanistanjauh dari kepastian, tetapi dia mengatakan rakyat Afghanistan harus menentukan nasib mereka sendiri. 

sumber : Reuters/Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement