Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Kolaborasi Bangun Desa Wisata di Danau Toba

Selasa 13 Jul 2021 09:27 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Hiru Muhammad

Sejumlah ibu-ibu mengenakan busana tradisional Batak dengan aneka kain tenun ulos saat acara peragaan busana para penenun ulos di Desa Lumban Suhi-Suhi, Pulau Samosir, Sumatera Utara, Sabtu (19/9/2020). Desa Lumban Suhi-Suhi merupakan desa perajin kain tenun ulos Batak yang terus berkreasi guna mempromosikan Danau Toba sebagai tujuan wisata nusantara di tengah pandemi COVID-19.

Sejumlah ibu-ibu mengenakan busana tradisional Batak dengan aneka kain tenun ulos saat acara peragaan busana para penenun ulos di Desa Lumban Suhi-Suhi, Pulau Samosir, Sumatera Utara, Sabtu (19/9/2020). Desa Lumban Suhi-Suhi merupakan desa perajin kain tenun ulos Batak yang terus berkreasi guna mempromosikan Danau Toba sebagai tujuan wisata nusantara di tengah pandemi COVID-19.

Foto: Edy Regar/ANTARA
Wisata pedesaan dapat menjadi garda terdepan menuju kemandirian ekonomi masyarakat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pematangsiantar bersama pemerintah daerah mendorong upaya pemulihan ekonomi melalui pembangunan Desa Wisata. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar, Edhi Rahmanto Hidayat mengatakan Danau Toba telah dipilih sebagai salah satu destinasi wisata prioritas yang akan menjadi Bali baru.

"Pematangsiantar dengan banyak potensinya sangat tersebar di seluruh pelosok, ada potensi wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, dan banyak jenis wisata lainnya," katanya dalam Webinar, Senin (12/7).

Desa Sait Buttu Saribu di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun telah ditetapkan sebagai desa wisata yang nantinya dapat menunjang integrasi pariwisata di Danau Toba. Maka dari itu kantor perwakilan Pematangsiantar telah memulai pengembangan embrio desa wisata ini dengan melibatkan sejumlah stakeholder.

Ia menyebut dengan berbagai potensi yang ada maka wisata pedesaan dapat menjadi garda terdepan dalam menuju kemandirian ekonomi masyarakat. Pengelolaan desa wisata memakai pendekatan pariwisata berbasis komunitas sehingga memanfaatkan potensi lokal.

Pengembangan sumber daya manusia, infrastruktur, dan regulasi menjadi batu loncatan awal untuk mengembangkan desa wisata. Dengan dukungan kemitraan banyak pihak, pengembangan wisata pedesaan juga bisa menciptakan masyarakat yang tangguh dan berdaya saing. "Selain itu adanya pergeseran peran wisata dari mass tourism tulisan menjadi quality tourism membuat desa punya harapan menjadi sebuah ekosistem yang utuh," katanya.

Tentu dengan berpegang teguh pada prinsip dan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Seperti memiliki atraksi, aksesibilitas, amenitas, dan sumber daya manusia yang baik.

Wakil Bupati Kabupaten Simalungun, Zonny Waldi juga mengatakan wilayah sekitar Danau Toba memang dianugerahi oleh sumber daya potensial yang bisa membawa pendapatan bagi masyarakat dan negara. Desa dan kelurahan, terutama Kabupaten Simalungun merupakan pencerminan atau miniatur Indonesia karena punya keberagaman.

"Kami mempunyai banyak suku bangsa dengan suku utamanya adalah Suku Simalungun kemudian suku Mandailing, Minangkabau dan lain-lainnya, juga ada juga suku Jawa, beragam agama, juga potensi pariwisata alam dan budaya," katanya.

Menurutnya, masih banyak titik pariwisata yang belum terekspos dan butuh pengelolaan yang lebih baik. Seperti air terjun tinggi raja yang berada di kawasan hutan lindung, selain itu juga ada potensi wisata agro kebun teh Sidamanik, hingga wisata budaya rumah peninggalan raja-raja.

"Ini masih terpelihara dengan baik dan merupakan objek wisata yang bisa mendatangkan pendapatan devisa bagi negara dengan pengelolaan yang lebih baik," katanya.

Wilayah ini juga kaya akan flora dan fauna yang dapat menjadi atraksi menarik baik bagi penduduk lokal maupun internasional. Selain objek-objek wisata, wilayah juga masih perlu untuk menggali kekayaan potensi lain seperti budaya dan seni.

Pemetaan potensi ini menjadi tahap awal dalam pengembangan desa wisata. Selanjutnya, kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pihak akan fokus untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan, seperti akses perjalanan, hingga akomodasi. 

Diharapkan hal ini dapat menjadi jalan untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekaligus membawa kemandirian ekonomi wilayah. Terakhir, pengembangan desa wisata akan menjadi jalan untuk pemulihan ekonomi nasional.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA