Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Mengeruk Untung dari Covid-19 di Media Sosial.

Selasa 13 Jul 2021 04:39 WIB

Red: Joko Sadewo

Hoaks di media sosial (ilustrasi)

Hoaks di media sosial (ilustrasi)

Foto: Republika.co.id
Pemerintah harusnya tegas dalam menyikapi disinformasi.

Oleh : Hiru Muhammad, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Covid-19 telah setahun lebih, tapi belum berlalu. Tak seorangpun bisa mengalkulasi akan berapa lama lagi Covid-19 bertahan dan berapa banyak lagi meminta korban seluruh dunia.  Di balik itu, Covid-19 yang berkepanjangan ini tanpa direncanakan sebelumnya telah menjadi peluang bisnis. Tidak hanya bagi kaum globalis ataupun bisnis e-commerce. Bagi segelintir orang, Covid-19 menjadi sarana untuk menuai keuntungan finansial dalam jumlah signifikan selain tentunya popularitas. 

Penderitaan yang mereka alami selama terpapar dan menjadi pasien Covid-19 diunggah di akun pribadi masing masing. Bagi selebritis yang terpapar bersama keluarganya, mereka tidak segan tampil bersama keluarga atau kerabatnya melalui berbagai pose di media sosial. Para netizenpun memberikan berbagai komentar dari sekedar tanda like, doa, pujian hingga sindiran. Tak jelas apa tujuannya, apakah sekedar pamer dengan berharap mendatangkan pengunjung lebih banyak di akun media sosial mereka, atau tujuan mulia mendorong kesadaran masyarakat agar mematuhi prokes. Atau bisa jadi memadukan keduanya.

Seolah tak mau kalah dengan para selebritis, ilmuwanpun juga angkat bicara. Dengan menggunakan akun medsos pribadi, mereka ramai ramai membanjiri ruang informasi publik itu dengan berbagai informasi terkait Covid-19. Mulai dari sekedar menyampaikan uneg uneg terkait covid-19, tips, memilih obat yang tepat, konsultasi hingga debat silang pendapat diantara pakar kesehatan. Bermodal kepakarannya, mereka bercerita banyak soal Covid-19 dengan berbagai versi. Entah argumentasinya bisa diterima publik atau tidak bukan masalah, selama dinilai ilmiah tentunya masih punya daya tarik bagi netizen.

Para netizenpun dibuat kagum, bingung dan galau, terharu, penasaran terkait pemaparan cerita berbagai versi para ilmuwan dan selebritis yang telah berbaur menjadi bagian dari komunitas virtual. Tenaga medis atau peneliti yang sibuk update status di medsos terkait covid 19 yang membuatnya menjadi bintang selebgram. Tanpa disadari kesibukannya di media sosial membuat folowernya meroket tajam.

Komunitas virtual terbentuk dari interaksi sosial yang terjadi di antara mereka, kesamaan nasib atau kepentingan menjadi pemicu terbentuknya komunitas ini yang termediasi media elektronik. Mereka berbagi kebiasaan dan bertindak secara kolektif mengikuti aturan dalam dunia virtual. Ironisnya semangat berbagi itu terkadang tidak diimbangi dengan kesantunan dan kecerdasan bermedia sosial. Silang pendapat yang berbuntut pada ketersinggungan, kepongahan atas informasi yang ditayangkan pihak tertentu, membuat terganggunya etika bermedia sosial di Tanah Air.

Di sisi lain komunitas virtual ini masih dipengaruhi dengan pernyataan sejumlah pejabat publik yang memilih menggunakan kata yang terkesan kurang tegas untuk suatu masalah. Misalnya penggunaan kata imbauan menggunakan masker kepada masyarakat. Dalam kondisi pandemi yang seperti ini, penggunaan masker seharusnya sudah menjadi kewajiban, tidak lagi sekedar imbauan. Memilih kata imbauan terkesan menjadi suatu yang tidak wajib bagi sebagian orang.

Tentunya dibutuhkan kehadiran pemerintah lebih luas lagi di saat situasi negara yang terjerat dalam pandemi mematikan ini melalui media sosial. Dari sisi komunikasi bukan sekedar memblok informasi yang menyesatkan, namun juga sikap lebih aktif dan lebih tegas memberikan solusi bagi masyarakat yang sedang bercampur antara panik, kecewa, putus asa atau tidak peduli dengan imbauan yang telah berulangkali ditegaskan melalui berbagai media. 

Masih banyaknya pelanggaran di masyarakat atau mereka yang abai, tidak disiplin menjadi indikator kurangnya literasi masyarakat terkait Covid-19. Karena itu keterlibatan lebih banyak dari tokoh informal seperti tokoh agama, tokoh masyarakat setempat dan penggiat media sosial. Keberadaan mereka merupakan modal sosial yang terbentuk dalam jaringan untuk jangka waktu lama. Hal itu menciptakan hubungan erat di antara anggotanya dan mendapat pengakuan bersama. Karena itu merangkul mereka sangat penting dalam mempercepat literasi masyarakat sehingga terbentuk kesamaan sikap dalam mengatasi pandemi ini. Bukankah kebutuhan informasi di saat pandemi ini menjadi sangat vital, sama pentingnya dengan oksigen bagi mereka yang sedang berjuang dengan maut di rumah sakit?

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA