Sunday, 21 Syawwal 1443 / 22 May 2022

Tim Investigasi Asing Selidiki Pembunuhan Presiden Moise

Senin 12 Jul 2021 08:24 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

(FILE) - Presiden Haiti Jovenel Moise menjawab pertanyaan saat wawancara di Port au Prince, Haiti, 05 Desember 2019 (diterbitkan ulang 07 Juli 2021).

(FILE) - Presiden Haiti Jovenel Moise menjawab pertanyaan saat wawancara di Port au Prince, Haiti, 05 Desember 2019 (diterbitkan ulang 07 Juli 2021).

Foto: EPA-EFE/JEAN MARC HERVE ABELARD
Laporan menyebut Presiden Moise disiksa sebelum akhirnya dibunuh.

REPUBLIKA.CO.ID, WILMINGTON  -- Sebuah tim pakar keamanan dan penegakan hukum Amerika Serikat (AS) serta negara lain melakukan perjalanan ke Haiti untuk melakukan peninjauan. Pentagon pada Ahad (11/7) mengatakan, tim tersebut akan menilai bantuan apa saja yang akan diberikan kepada Haiti setelah terjadi tragedi pembunuhan Presiden Jovenel Moise.

"Hari ini, tim antar-lembaga yang terdiri dari Departemen Keamanan Dalam Negeri dan FBI sedang menuju ke Haiti, untuk melihat apa yang bisa kami lakukan untuk membantu proses investigasi," kata juru bicara Pentagon John Kirby kepada Fox News Sunday.

Baca Juga

"Kami akan membantu mereka menyelidiki insiden ini dan mencari tahu siapa yang bersalah, serta meminta pertanggungjawaban mereka," kata Kirby menambahkan.

Haiti telah meminta bantuan AS untuk mengamankan negara itu dan menyelidiki serangan yang menewaskan Presiden Moise pada Rabu di rumahnya di Port-au-Prince. Tragedi ini menjerumuskan Haiti ke dalam kekacauan politik.

Tidak diketahui berapa lama tim AS akan tetap berada di Haiti. Pejabat pemerintah mengatakan, Washington juga akan berkonsultasi dengan mitra regionalnya dan PBB. Amerika Serikat sejauh ini telah menolak permintaan pasukan Haiti, sementara PBB akan membutuhkan otorisasi Dewan Keamanan untuk mengirim pasukan bersenjata.

"Kami sedang menganalisisnya seperti halnya permintaan bantuan lainnya di Pentagon. Ini akan melalui peninjauan," ujar Kirby.

Presiden Moise mengalami penyiksaan sebelum dibunuh oleh sekelompok tentara bayaran yang diduga orang asing. Menurut pihak berwenang Haiti pada Sabtu (10/7), Moise disiksa di kamar tidurnya.

Salah satu hakim yang terlibat dalam penyelidikan, Carl Henry Destin mengatakan kepada surat kabar Le Nouveliste, putri Moise melarikan diri. Sementara putra dan staf Moise dibungkam secara paksa. Destin mengatakan, berdasarkan laporan otopsi, Moise mengalami patah tulang di lengan dan kaki kanannya.

Seperti dilansir Anadolu Agency, Ahad (11/7), Kepala Kepolisian Nasional Haiti, Leon Charles mengatakan, kelompok yang membunuh Moise terdiri dari dua orang berkewarganegaraan Amerika dan 26 orang berkewarganegaraan Kolombia. Para pejabat mengatakan sebelumnya bahwa empat tersangka telah tewas dalam baku tembak dengan polisi.

Miami Herald mengutip orang-orang yang telah berbicara dengan beberapa dari 19 tersangka yang ditahan. Mereka mengatakan, misi utamanya adalah menangkap Moise dan membawanya ke istana presiden.

Sebuah sumber yang dekat dengan penyelidikan mengatakan, dua warga Amerika Haiti, James Solages dan Joseph Vincent, mengatakan kepada penyelidik bahwa mereka adalah penerjemah untuk unit komando Kolombia yang memiliki surat perintah penangkapan. Tetapi ketika tiba, mereka menemukan Moise sudah meninggal. Sebuah laporan menyebutkan, beberapa orang Kolombia mengatakan bahwa mereka telah bekerja sebagai personel keamanan di Haiti, termasuk untuk Moise.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA