Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Korut Tolak Vaksin AstraZeneca dari Covax

Sabtu 10 Jul 2021 02:23 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Seorang petugas kesehatan menyiapkan dosis vaksin AstraZeneca. Korut khawatir tentang vaksin AstraZeneca setelah laporan kejadian pembekuan darah. Ilustrasi.

Seorang petugas kesehatan menyiapkan dosis vaksin AstraZeneca. Korut khawatir tentang vaksin AstraZeneca setelah laporan kejadian pembekuan darah. Ilustrasi.

Foto: AP/Sakchai Lalit
Korut khawatir tentang vaksin AstraZeneca setelah laporan kejadian pembekuan darah

REPUBLIKA.CO.ID, PYONGYANG - Korea Utara (Korut) menolak rencana pengiriman vaksin AstraZeneca yang diselenggarakan melalui skema distribusi global Covax. Menurut think tank Korea Selatan, Korut khawatir efek samping yang ditimbulkan oleh vaksin Covid-19 tersebut.

Covax mengatakan akan memberikan hampir dua juta dosis suntikan AstraZeneca ke Korut. Gelombang pertama diharapkan dikirim pada akhir Mei tapi ditunda di tengah konsultasi yang berlarut-larut.

Korut belum melaporkan kasus Covid-19 satu pun dari negaranya. Kondisi ini jelas dipertanyakan oleh pejabat Korea Selatan dan Amerika Serikat. Namun, negara tertutup itu telah memberlakukan tindakan anti-virus yang ketat, termasuk penutupan perbatasan dan pembatasan perjalanan domestik.

Laporan Institute for National Security Strategy (INSS), yang berafiliasi dengan agen mata-mata Korea Selatan, menyebut Pyongyang kini sedang mencari opsi vaksin lain. Ditanya tentang laporan tersebut, Aliansi Global untuk Vaksin dan Aliansi Imunisasi (GAVI), salah satu organisasi yang ikut memimpin Covax, merujuk pertanyaan spesifik tentang preferensi dan kebijakan Korut kepada pemerintah di Pyongyang.

"Kami terus bekerja dengan otoritas DPRK, karena kami bekerja dengan semua negara yang kami layani, untuk membantu menanggapi pandemi Covid-19," kata juru bicara GAVI, menggunakan inisial nama resmi Korut, dikutip dari laman Channel News Asia, Jumat (9/7).

Laporan INSS juga mengatakan Korut tidak tertarik pada vaksin China karena kekhawatiran mereka mungkin tidak begitu efektif. Namun Korut menunjukkan minat pada vaksin yang dibuat di Rusia, berharap mereka akan disumbangkan secara gratis.

"Ini condong ke arah vaksin Rusia, tapi tidak ada pengaturan yang dibuat," ujar Lee Sang-keun, direktur penelitian strategis di semenanjung Korea di INSS.

Rabu pekan ini, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan Moskow telah menawarkan vaksin kepada Pyongyang pada beberapa kesempatan. Lee menambahkan pihak berwenang Korut khawatir tentang vaksin AstraZeneca setelah laporan kejadian pembekuan darah yang langka tapi serius di antara beberapa orang yang menerimanya.

Sementara Korut mengizinkan diplomatnya di luar negeri untuk menerima vaksin Covid-19 mulai akhir Maret. Menurut INSS Korut tidak berupaya mengamankan vaksin untuk penggunaan internal.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA