Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Menjaga Mental Anak Selama Pandemi

Jumat 09 Jul 2021 18:22 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Nora Azizah

Survei sebut sebagian anak alami gangguan depresi selama pandemi.

Survei sebut sebagian anak alami gangguan depresi selama pandemi.

Foto: www.freepik.com.
Survei sebut sebagian anak alami gangguan depresi selama pandemi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog anak RS Yarsi, Devi Sani Rezki menjelaskan selama pandemi mental anak juga harus menjadi perhatian. Berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) kepada 3.200 anak SD-SMA, sebanyak 13 persen mengalami gejala yang mengarah pada gangguan depresi ringan hingga berat selama masa pandemi.

"Jadi bayangkan saja, 13 persennya, 300-an lebih anak yang menunjukkan gejala depresi ringan sampai berat. Apalagi ini sudah masuk gangguan. Artinya, kalau sudah masuk gangguan harus ada penanganan, intervensi yang lebih. Bukan hanya didiamkan saja seiring berjalannya waktu," kata Devi, dalam webinar, dipantau di Jakarta, Jumat (9/7).

Baca Juga

Ia menjelaskan, selama masa pandemi pasti muncul perasaan bosan karena harus tinggal di rumah. Devi juga menyebutkan, berdasarkan pasien yang ia rawat terdapat dua jenis gangguan yang meningkat selama pandemi. Kedua jenis gangguan tersebut adalah kecemasan dan kemarahan.

Untuk menghadapi pandemi yang masih terus berjalan, Devi menyebutkan ada beberapa hal yang dibutuhkan anak. Salah satu yang paling penting adalah memiliki pendengar yang empatik. Orang tua dan orang dewasa di sekitar anak perlu menjadi sosok yang mendengarkan dan berempati.

Berdasarkan pengamatan pada pasien-pasiennya, kebanyakan orang tua anak yang mengalami gangguan terlalu bersifat logis. Padahal, dalam merawat anak harus menggunakan logika dan emosi secara bersamaan.

"Jadi secara psikologis, anak itu butuh dibimbing dan dipandu untuk identifikasi emosinya. Mengkomunikasikan emosinya dengan orang lain dan mengelola emosinya. Ini perlu dibimbing dan dipandu," kata Devi.

Ia memahami, orang Indonesia dalam merawat anak cenderung tidak ekspresif. Namun, dalam hal menjaga mental anak tetap sehat selama pandemi, perlu ada ekspresi emosi untuk membicarakan apa yang selama ini dirasakan anak.

"Kita tidak seekspresif itu. Inilah yang secara mengakar harus diubah dan bisa dimulai dari pendidikan, kalau menurut saya dan dari sekolah. Sehingga jika kita bisa mengubah hal ini, anak-anak kita akan lebih kuat secara mental," kata dia lagi.

Di tahun ajaran baru nanti, anak membutuhkan rasa aman, diakui keberadaannya, dan diberi rasa tenang yang wajar. Untuk bisa melakukan hal ini, Devi menjelaskan orang tua perlu berusaha memahami perasaan anak.

Ketika anak bercerita tentang perasaannya, perlu ada strategi awal yaitu validasi terhadap perasaan tersebut. Barulah setelah itu orang tua bisa memberikan nasehat kepada anak. Namun, jangan sampai hanya memberikan nasehat tanpa ada bentuk validasi perasaan anak.

Selanjutnya, Devi juga menyarankan agar orang tua dan guru memahami kebutuhan mental diri sendiri. "Tidak perlu harus bahagia 100 persen, tapi setidaknya kita menyadari situasi kejiwaan kita itu gimana. Kapan kita butuh berhenti dulu, kapan kita harus berjalan lagi," kata Devi menjelaskan.

Ia menyarankan agar Kemendikbudristek membuat semacam webinar yang berisi emotional healing. Sebab, saat ini guru banyak sekali yang harus menjalankan tuntutan dari orang tua, belum lagi ketika murid sulit diatur dalam pembelajaran daring.

"Kita perlu support guru ini juga. Kita perlu beri pelatihan yang bukan sifatnya skill logis, tapi emosional dari guru. Ini perlu kita beri juga," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA