Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Cara Menjaga Kesehatan Mental Saat Isolasi Mandiri

Jumat 09 Jul 2021 15:24 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Mas Alamil Huda

Ilustrasi Isolasi Mandiri

Ilustrasi Isolasi Mandiri

Foto: Republika/Mardiah
Rasa cemas, khawatir, dan ketakutan tidak dipungkiri sering muncul saat isoman.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Rasa cemas, khawatir, dan ketakutan tidak dipungkiri sering muncul saat isolasi mandiri (isoman). Kondisi itu merupakan hal yang umum terjadi. Meski begitu, hal itu tidak lantas dibiarkan begitu saja untuk menjaga kondisi mental agar tetap sehat.

Psikiater dari Universitas Gadjah Mada, Ronny Tri Wirasto, mengatakan, isoman merupakan sebuah kondisi yang menimbulkan jarak baik secara fisik, emosi maupun finansial. Gap tersebut berpotensi memunculkan sejumlah persoalan.

"Secara umum, permasalahan yang kerap terjadi saat isolasi mandiri yaitu ketakutan menghadapi penyakit itu sendiri, ketakutan saat isoman, kebosanan dan frustasi. Persoalan ini yang kita hadapi bersama saat ini," kata Ronny, Jumat (9/7).

Kaprodi Pendidikan Spesialis Ilmu Kejiwaan FKKMK UGM ini membagikan beberapa cara hadapi stres agar mental sehat selama isolasi. Salah satunya membatasi menonton, membaca, atau mendengar berita dan cerita baru terkait Covid-19, termasuk di medsos.

"Pembatasan bisa berupa waktu, jumlah, topik atau sumbernya. Atur waktu dalam pembatasan ini," ujar Ronny.

Cara lain dengan melakukan perawatan tubuh secara optimal mulai dari kebersihan hingga aktivitas fisik. Beberapa tambahan aktivitas fisik yang dapat dilakukan seperti melakukan latihan bernafas dalam, peregangan, dan meditasi yang terarah.

Selain itu, mengatur makanan dengan pola seimbang, melakukan olahraga ringan secara teratur dan hindari konsumsi alkohol dan rokok. Kemudian, yang tidak kalah penting usahakan tetap terhubung dengan orang lain seperti keluarga, kerabat, dan teman.

Selalu berkomunikasi untuk membagi kondisi dan perasaan saat ini, dapat melalui media sosial, daring, maupun telpon. Seseorang perlu segera mendapatkan pendampingan profesional, baik konselor, psikolog atau psikiater jika tetap alami kesulitan.

Kesulitan yang dimaksud masih ada perasaan marah, takut, sedih, frustasi, berubah nafsu makan, energi kurang, minat kurang dan sulit tidur. Bahkan, perlu diwaspadai jika muncul keluhan fisik seperti nyeri kepala, ulu hati dan di bagian tubuh lain.

"Kalau masih ada keluhan seperti itu sebaiknya segera minta pendampingan profesional, baik konselor, psikolog dan atau psikiater," kata Ronny.

Ronny mengingatkan, dukungan sosial juga sangat diperlukan dalam kondisi pandemi, termasuk bagi pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri. Adanya dukungan keluarga terdekat maupun masyarakat diharap dapat mengurai masalah atau stresor saat isoman.

Dukungan sosial diperlukan untuk memberikan jaminan atas pemenuhan kebutuhan dasar saat menjalani isoman. Masyarakat diharapkan juga tidak memberikan pelabelan atau stigmatisasi karena menjadikan pasien khawatir lebih dibanding sebelum terinfeksi.

"Tidak lupa jaminan suplai yang kuat. Bagi yang menjalani isoman jangan ragu konsultasi dengan dokter atau petugas kesehatan terkait Covid-19. Dengan begitu, jika ada perubahan derajat gejala bisa segera terdeteksi atau tertangani," ujar Ronny.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA