Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Gelombang Panas Berpotensi 150 Kali Lebih Sering Terjadi

Jumat 09 Jul 2021 14:51 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Dwi Murdaningsih

Seorang anak melihat penguin berenang saat terjadi gelombang panas di Kebun Binatang Calgary, Alberta, Kanada, Rabu (30/6). Sejumlah wilayah di Kanada dilanda gelombang panas esktrim dengan kisaran suhu mencapai 45 hingga 49 derajat celcius dalam beberapa hari.(Jeff McIntosh/The Canadian Press via AP)Putra M. Akbar

Seorang anak melihat penguin berenang saat terjadi gelombang panas di Kebun Binatang Calgary, Alberta, Kanada, Rabu (30/6). Sejumlah wilayah di Kanada dilanda gelombang panas esktrim dengan kisaran suhu mencapai 45 hingga 49 derajat celcius dalam beberapa hari.(Jeff McIntosh/The Canadian Press via AP)Putra M. Akbar

Foto: The Canadian Press
Gelombang panas berpotensi 150 kali lebih sering terjadi karena perubahan iklim.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Gelombang panas mematikan dan memecahkan rekor baru-baru ini di Amerika Utara disebabkan oleh perubahan iklim. Para ilmuwa sangat khawatir tentang prospek peristiwa serupa yang terjadi di seluruh dunia.

Tim ilmuwan internasional telah menemukan bahwa gelombang panas, yang mungkin telah menewaskan ratusan orang di desa Lytton berpotensi 150 kali lebih mungkin gara-gara pemanasan global.

Baca Juga

Menurut para peneliti di proyek Atribusi Cuaca Dunia, suhu tertinggi 2°C lebih panas daripada tanpa aktivitas manusia yang menghangatkan Bumi. Pada tahun 2040-an, mereka memperingatkan, gelombang panas seperti itu bisa menjadi 1°C lebih hangat lagi.

"Ini adalah peristiwa yang luar biasa," kata Geert Jan van Oldenborgh di Institut Meteorologi Kerajaan Belanda, yang berkontribusi pada penelitian tersebut, dilansir di New Scientist, Kamis (8/7).

Menurut van Oldenborgh, banyak orang sangat khawatir dengan peristiwa ini. Karena ini mungkin juga terjadi di Belanda, Prancis, di tempat lain. Di tempat-tempat itu suhu tiba-tiba melonjak 5°C. Ini adalah sesuatu yang benar-benar perlu diteliti, apakah kita harus bersiap untuk lompatan semacam ini di belahan dunia lain.

Van Oldenborgh dan rekan-rekannya sampai pada temuan mereka menggunakan pendekatan yang dikenal sebagai atribusi peristiwa ekstrem. Mereka mengurangi 35 model komputer menjadi 21 yang paling mampu mereproduksi pengamatan cuaca masa lalu di area yang menggabungkan bagian British Columbia, Oregon, dan Washington. Model-model tersebut kemudian digunakan untuk memperkirakan suhu harian maksimum rata-rata di daerah yang diteliti, dengan dan tanpa perubahan iklim.

Suhu mendekati 50 °C yang tercatat di Kanada tidak muncul dalam model iklim. Hal itu memaksa tim untuk secara artifisial memasukkan peristiwa tersebut ke dalam model mereka.

Ilmuwan membuat asumsi tentang kelangkaan gelombang panas seperti itu. Ilmuwan mereka perkirakan kira-kira ada kemungkinan 1 dari 1000 peristiwa. Model-model tersebut kemudian menunjukkan bahwa peristiwa itu 150 kali lebih mungkin terjadi di dunia dengan perubahan iklim.

Menurut van Oldenborgh, sampai tahun lalu panas seperti itu di wilayah-wilayah tersebut tidak mungkin terjadi. "Agak mengejutkan dan mengguncang bahwa gambaran teoretis kita tentang bagaimana gelombang panas berperilaku rusak begitu (secara dramatis),” katanya.  

Gelombang panas bisa saja merupakan nasib buruk yang diperparah oleh perubahan iklim, kata tim tersebut.  Penjelasan alternatif yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa hal itu bisa terjadi karena interaksi non-linier dalam iklim, seperti kekeringan parah di selatan wilayah yang diteliti.  

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA