Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sifat Manusia Meminta Bantuan Allah Ketika Ditimpa Musibah

Kamis 08 Jul 2021 13:24 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Esthi Maharani

Berdoa (Ilustrasi)

Berdoa (Ilustrasi)

Foto: Republika
Sudah menjadi sifat dasar manusia ketika ditimpa ujian akan meminta bantuan Allah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap manusia pasti mengalami ujian dalam hidupnya. Sudah menjadi sifat dasar manusia ketika ditimpa ujian semisal wabah, meninggalnya kerabat, hilangnya harta, adalah akan memohon pertolongan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Manusia akan mendekatkan diri kepada Allah dan berdoa agar musibah atau keburukan yang menimpanya segera sirna. Baik dalam kondisi berbaring, berdiri, atau pun duduk, manusia akan segera berdoa meminta keburukan yang menimpanya segera berakhir.

Akan tetapi ketika Allah SWT mengakhiri keburukan, musibah atau kemalangan yang dialami seorang manusia dan menggantinya dengan kenikmatan, sebagian manusia justru  melupakan Allah SWT yang telah menyelamatkan dan menolongnya keluar dari kesulitan. Lebih parah lagi, setelah kemalangan berganti menjadi kenikmatan, hamba tersebut justru tenggelam dalam perbuatan maksiat penuh dosa dan melupakan Allah.

Karakter manusia semacam ini diterangkan dalam Alquran surat Yunus ayat 12.

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.

Pakar tafsir Alquran yang juga pengasuh Bayt Al Quran-Pusat Studi Alquran Jakarta, Ustaz Syahrullah Iskandar menerangkan dalam kitab min wahyil quran diterangkan ada beberapa pendapat tentang kata Al Insan atau berarti manusia dalam surat Yunus ayat 12 tersebut.

Sebagian mufasir berpendapat yang dimaksud dengan Al Insan dalam ayat itu adalah hanya orang-orang yang tidak beriman kepada Allah atau orang-orang kafir. Sementara ada juga pendapat yang dinilai pengarang kitab min wahyil quran terlalu berlebihan karena berpendapat bahwa setiap kata al insan dalam Alquran merujuk pada orang-orang kafir.  

Penyusunan kitab min wahyil quran menilai pendapat itu kurang tepat karena banyak ayat yang terdapat dalam Alquran menggunakan kata al insan mempunyai makna menunjuk pada semua manusia baik kafir maupun Muslim contohnya pada ayat 12 surat Al Mu'minun.

Penulis kitab ini justru berpendapat bahwa kata al insan pada surat Yunus ayat 12 mencakup golongan kafir dan mukmin yang mungkin mempunyai dosa atau lalai akan nikmat-nikmat Allah.

"Ini sebenarnya karakter dasar manusia. Memperoleh nikmat (setelah hilangnya kemalangan) justru dia lalai dengan nikmat yang diberikan. Tapi tidak semua seperti itu, orang yang terselamatkan dari sifat keburukan itu adalah yang memperbanyak berzikir kepada Allah dan kesadaran eksistensinya dia munculkan sehingga dia tidak terpengaruh sifat buruk tersebut," jelas ustaz Syahrullah dalam kajian virtualnya beberapa waktu lalu.

Ustaz Syahrullah menerangkan seorang Muslim ketika ditimpa musibah seharusnya bersabar, dan mengingat-ingat nikmat yang telah Allah SWT berikan. Memperbanyak berzikir kepada Allah. Dam setelah hilangnya musibah dan kemalangan, tetap memelihara rasa bersyukur dan zikir.   

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA