Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Inggris akan Lacak Varian Covid dari Urutan Genom Global

Rabu 07 Jul 2021 22:26 WIB

Red: Nora Azizah

Mutasi virus Covid-19 dinilai lebih lambat dari influenza atau HIV.

Mutasi virus Covid-19 dinilai lebih lambat dari influenza atau HIV.

Foto: Pixabay
Mutasi virus Covid-19 dinilai lebih lambat dari influenza atau HIV.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Inggris pada Rabu (7/7) mengatakan akan memberikan dukungan pengurutan genom kepada Brazil, Ethiopia, Kenya, Nigeria dan Pakistan untuk membantu mengidentifikasi dan melacak varian baru COVID-19. Virus corona, yang telah menelan empat juta korban jiwa di seluruh dunia sejak kemunculannya di China akhir 2019, bermutasi sekitar sekali setiap beberapa pekan.

Virus itu lebih lambat dibanding influenza atau HIV, namun cukup memerlukan penyesuaian vaksin. Public Health England akan memperluas dukungan kepada mitra Inggris melalui New Variant Assessment Platform Programme yang melacak perubahan perubahan virus. Sekitar sepertiga dari semua pengurutan SARS-CoV-2 yang diajukan ke database GISAID internasional tentang virus influenza berasal dari Inggris Raya.

Baca Juga

"Inggris Raya merupakan kekuatan super sains dan tepat kami mendukung perjuangan dunia melawan COVID-19," kata Menteri Luar Negeri Dominic Raab, dilansir dari reuters.

"Kami berbagi keahlian genomik Inggris Raya dengan Brazil, Ethiopia, Kenya, Nigeria, Pakistan, Singapura dan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Afrika, meningkatkan pengawasan penyakit dan membantu negara-negara mengidentifikasi, melacak dan merespons varian COVID-19, yang menjadi perhatian dunia," katanya.

Pejabat kesehatan Inggris mengatakan pengawasan genom yang kuat penting untuk mengenali varian baru virus corona dan kemudian membasminya. Public Health England telah mengurutkan sampel dari Ukraina, Kyrgyzstan, Tajikistan, dan Albania, dan akan melanjutkan program tersebut.

"Varian baru SARS-CoV-2 menjadi ancaman besar dan penting untuk diingat bahwa dalam pandemi global, tidak ada negara yang aman sampai semua negara aman," kata Dr Jenny Harries, Kepala Eksekutif Lembaga Keamanan Kesehatan Inggris Raya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA