Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Ledakan Kasus Bisa Picu Angka Kematian di Rumah

Selasa 06 Jul 2021 19:40 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Indira Rezkisari

Petugas menata velbed saat persiapan ruang isolasi bagi pasien Covid-19 di Masjid Darul Jannah Kantor Walikota Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (6/7). Kantor Walikota Jakarta Selatan menyediakan lantai dua dan tiga gedung blok C untuk tempat isolasi pasien Covid-19  tanpa gejala dengan kapasitas sebanyak 250 orang. Republika/Putra M. Akbar

Petugas menata velbed saat persiapan ruang isolasi bagi pasien Covid-19 di Masjid Darul Jannah Kantor Walikota Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (6/7). Kantor Walikota Jakarta Selatan menyediakan lantai dua dan tiga gedung blok C untuk tempat isolasi pasien Covid-19 tanpa gejala dengan kapasitas sebanyak 250 orang. Republika/Putra M. Akbar

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Makin banyak pasien tak bisa ditangani bila kasus terus bertambah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) angkat bicara mengenai skenario terburuk pemerintah Indonesia mengenai kasus harian Covid-19 di atas 40 ribu. Jika mobilitas warga belum bisa dikendalikan, kasus harian sebanyak itu bisa benar-benar terjadi dan efek lainnya adalah pasien Covid-19 yang meninggal dunia di rumah.

"Kalau mobilitas warga belum bisa dikendalikan maka kasus harian bisa saja setinggi itu. Kemudian, kalau kasus harian terus naik maka bisa banyak pasien meninggal dunia di rumah karena mereka tidak tertangani di rumah sakit yang penuh," kata Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi), Lia G Partakusuma, saat dihubungi Republika, Selasa (6/7).

Baca Juga

Kematian di rumah bisa terjadi ketika pasien memburuk dan tidak ada tenaga medis yang bisa menolong karena rumah sakit penuh. Sementara pihak rumah sakit hanya menerima orang yang dirawat di rumah sakit, termasuk pasien yang menunggu di instalasi gawat darurat (IGD).

Artinya, rumah sakit hanya bisa merawat pasien di dalam rumah sakit saja. Ketika ada pasien baru, rumah sakit tidak bisa menerima lagi karena penuh.

"Kami hanya mengurus pasien yang ada di dalam rumah sakit, makanya mereka (pasien yang tidak kebagian rumah sakit) ada di rumah. Kalau pasien ingin bertahan tetap bisa dirawat maka itu yang lebih merepotkan lagi karena bisa saja meninggal dunia saat antre, rumah sakit jadi chaos," katanya.

Sebab, dia melanjutkan, rumah sakit harus menggunakan sesuatu untuk menangani pasien Covid-19 yaitu ruangan, kemudian fasilitas obat, oksigen, hingga tenaganya. Di satu sisi, dia menambahkan, kalau banyak orang datang berobat ke rumah sakit dan membawa virus, kemudian tenaga kesehatan yang sudah capai kemudian tertular maka dampaknya mereka harus menjalani isolasi dulu.

"Kemudian kalau tenaga kesehatannya makin berkurang bagaimana. Ini jadi stagnasi," ujarnya.

Untuk mengatasi masalah ini, Persi mengharapkan pemerintah bisa menambah mendirikan rumah sakit (RS) lapangan atau RS darurat. Saat ini jumlah pasien yang sakit lebih banyak dibandingkan yang sehat. Artinya, pasien yang tidak bisa dirawat di rumah sakit bisa dikumpulkan dalam satu tempat yang besar kemudian diawasi petugas kesehatan.

Selain itu, Persi berharap supaya pemerintah bisa membantu menambah tenaga kesehatan di rumah sakit dengan memberdayakan relawan tenaga kesehatan (nakes). Ia menyontohkan mahasiswa kedokteran yang baru lulus sebelumnya harus urus mengurus izin terlebih dahulu sebelum praktik menjadi nakes.

"Nah, sekarang bisa dipercepat (izinnya) kemudian diperbantukan di lapangan (sebagai relawan)," ujarnya.

Distribusi tabung oksigen juga bisa dipercepat ke rumah sakit di Indonesia. Lia meminta pembagian oksigen diatur ke seluruh wilayah secepat mungkin.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi dan juga Ketua Pelaksana PPKM Mikro Daurat Jawa-Bali Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah telah menyusun skenario terburuk Covid-19. Luhut mengatakan, pemerintah sudah memiliki skenario jika lonjakan kasus harian Covid-19 menembus lebih dari 40 ribu, bahkan mencapai 60-70 ribu.

"Kita sudah hitung worst case, lebih dari 40 ribu bagaimana supply oksigen, obat, RS semua sudah kami hitung," kata Luhut dalam konferensi virtual, Selasa (6/7).

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA