Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Hong Kong Minta Remaja Berideologi Berbahaya Dilaporkan

Selasa 06 Jul 2021 15:10 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Chief Executive Hong Kong Carrie Lam. Ilustrasi.

Chief Executive Hong Kong Carrie Lam. Ilustrasi.

Foto: AP/Kin Cheung
Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam minta ide ilegal tak dibagikan ke publik

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam mengatakan ideologi menimbulkan risiko bagi keamanan nasional. Dia mendesak orang tua, guru, dan pemimpin agama untuk mengamati perilaku remaja dan melaporkan mereka yang melanggar hukum kepada pihak berwenang.

"Untuk waktu yang lama, warga telah terpapar pada ide-ide yang salah, seperti mencapai keadilan melalui cara-cara ilegal," kata Lam, Selasa (6/7).

Lam menyatakan kekecewaan pada beberapa warga yang berduka atas kematian seorang pria berusia 50 tahun yang menikam seorang polisi sebelum bunuh diri pada 1 Juli. Dia menyatakan risiko keamanan nasional tidak hanya berasal dari tindakan ketertiban umum, tetapi juga dari ideologi.

Menurut Lam, pemerintah seharusnya tidak membiarkan ide-ide ilegal untuk dibagikan ke publik melalui pendidikan, penyiaran, seni dan budaya, memperindah kekerasan, dan mengaburkan hati nurani publik. "Saya juga mengimbau kepada orang tua, kepala sekolah, guru, bahkan pendeta untuk mencermati ulah remaja di sekitar mereka. Jika ada remaja yang kedapatan melakukan perbuatan melanggar hukum, harus dilaporkan," ujarnya.

Pusat keuangan ini telah mengambil peran otoriter yang cepat sejak China memberlakukan undang-undang keamanan nasional tahun lalu. Aturan itu membawa perubahan pada sistem politiknya untuk mengurangi partisipasi demokratis dan mengusir orang-orang yang dianggap tidak setia kepada Beijing.

Kota ini telah terpolarisasi sejak pengunjuk rasa turun ke jalan pada 2019 menuntut demokrasi dan akuntabilitas yang lebih besar atas kekerasan polisi. Pihak berwenang mengatakan protes itu dipicu oleh pasukan asing dan menimbulkan risiko terhadap keamanan nasional.

Sejak undang-undang keamanan diperkenalkan, penentang pemerintah yang paling menonjol telah dipenjara atau melarikan diri ke luar negeri. Para kritikus mengatakan undang-undang itu telah menghancurkan hak dan kebebasan, sementara para pendukung mengatakan undang-undang itu telah memulihkan stabilitas.

Polisi dan pejabat keamanan mengatakan penikaman terhadap polisi berusia 28 tahun itu adalah upaya teroris. Namun, banyak warga yang justru pergi ke lokasi serangan. Beberapa dengan anak-anak memberi penghormatan kepada penyerang dan meletakkan bunga pada 2 Juli. Kondisi ini menuai kecaman dari Lam dan pejabat lainnya.

Lam mengatakan warga tidak boleh tertipu oleh pesan yang beredar secara daring yang menunjukkan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas kekerasan tersebut. "Jangan mencari alasan atas nama kekerasan," katanya.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA