Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

IHSG Kembali Menguat Ditopang Saham Perbankan dan Teknologi

Selasa 06 Jul 2021 11:22 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ferry kisihandi

Karyawan memotret layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (25/6/2021).

Karyawan memotret layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (25/6/2021).

Foto: Antara/Reno Esnir
Pergerakan pasar saham akan mendapat pengaruh dari sentimen eksternal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona positif pada perdagangan pagi ini, Selasa (6/7). IHSG dibuka menguat ke level 6.015,58 dan terus naik sebesar 0,42 persen ke level 6.031,10. 

Sejumlah saham perbankan menjadi penggerak naiknya IHSG pada pagi ini. Di antaranya, PT Bank Permata Tbk yang menguat 17 persen serta PT Bank Syariah Indonesia Tbk yang menguat 3,24 persen. Saham lainnya yang juga bergerak naik yaitu PT Elang Mahkota Tekonologi Tbk sebesar 8 persen. 

Phillip Sekuritas Indonesia mengatakan, pergerakan pasar saham akan mendapat pengaruh dari sentimen eksternal.

 "Investor merespons rilis data Non-Farm Payrolls AS pada hari Jumat dan menyambut baik data ekonomi Eropa  yang keluar cukup baik," tulis Phillip Sekuritas Indonesia dalam risetnya, Selasa (6/7).

Perhitungan akhir data Markit Composite PMI untuk zona Euro naik ke level 59,5 di bulan Juni, yang merupakan angka tertinggi sejak Juni 2006. Mei lalu, Markit Composite PMI zona Euro hanya di level 57,1.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah naik setelah OPEC+ membubarkan pertemuan tanpa mencapai kesepakatan. Hal ini mendorong OPEC masuk ke dalam krisis dan membiarkan pasar minyak dunia menghadapi pasokan yang lebih ketat.  

Menurut Phillip, OPEC+ sempat hampir mencapai kesepakatan menambah pasokan sebesar 400 ribu barel per hari setiap bulan dan memperpanjang masa berlaku kesepakatan hingga Desember 2022. Namun, perseteruan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) menjadi pengganjal tercapainya kesepakatan ini secara aklamasi.  

UAE merasa keberatan dengan rendahnya dasar perhitungan pemangkasan produksi atas negaranya sehingga minta dinaikkan. UAE mengatakan akan menerima usulan penambahan produksi tapi menolak perpanjangan masa berlaku kesepakatan hingga Desember 2022. Namun, Arab Saudi menegaskan kedua eleman tersebut tidak terpisahkan karena berada dalam satu paket. 

UAE diketahui telah menginvestasikan miliaran dolar AS untuk meningkatkan kapasitas produksi minyaknya. Jika kesepakatan tidak tercapai dalam beberapa hari ke depan, maka OPEC+ tidak akan menaikkan volume produksi untuk bulan Agustus.  

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA