Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

Pemkot Siapkan Satu RS Khusus Covid-19 di Yogyakarta

Selasa 06 Jul 2021 06:04 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Agus raharjo

Pasien Covid-19 menjalani perawatan di tenda darurat khusus Covid-19 Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Yogyakarta, Ahad (4/7). Posko Dukungan Operasi Satgas COVID-19 BPBD DIY mengonfirmasi sebanyak 63 pasien di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta meninggal dunia dalam sehari semalam pada Sabtu (3/7) hingga Ahad (4/7) pagi akibat menipisnya stok oksigen.

Pasien Covid-19 menjalani perawatan di tenda darurat khusus Covid-19 Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Yogyakarta, Ahad (4/7). Posko Dukungan Operasi Satgas COVID-19 BPBD DIY mengonfirmasi sebanyak 63 pasien di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta meninggal dunia dalam sehari semalam pada Sabtu (3/7) hingga Ahad (4/7) pagi akibat menipisnya stok oksigen.

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
PHRI Yogyakarta menawarkan tiga hotel sebagai shelter perawatan pasien Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menyiapkan beberapa skenario terkait penanganan kasus Covid-19 yang terus menunjukkan kenaikan tajam tiap harinya. Salah satunya dengan menjadikan satu rumah sakit khusus untuk menangani Covid-19.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi menyebut, saat ini keterisian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) di Kota Yogyakarta sudah mencapai 97 persen untuk ICU. Sedangkan, BOR untuk non ICU mencapai 85 persen.

Pihaknya juga masih terus menambah kapasitas tempat tidur. Bahkan, pada awal Juli kemarin juga sudah ditambah 71 tempat tidur di semua rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 di Kota Yogyakarta.

Pemkot juga sedang menyiapkan pendirian tenda darurat penanganan Covid-19 di RSUD Kota Yogyakarta, Wirosaban. Kapasitas tenda darurat ini dapat menampung setidaknya 50 pasien.

"Bahkan jika lebih pun masih dimungkinkan dari Korem untuk meminjamkan tenda dengan kapasitas 50 bed (tempat tidur).  jika kondisi masih memerlukan tambahan bed lagi, maka RS Pratama Yogya nantinya bisa diubah menjadi rumah sakit (khusus) Covid-19. Itu skenario yang sudah kita siapkan," kata Heroe kepada wartawan dalam pesan tertulisnya, Senin (5/7).

Selain itu, penggunaan shelter juga dimaksimalkan bagi kasus Covid-19 yang tidak memerlukan perawatan intensif di rumah sakit. Selain Shelter Tegalrejo, pemanfaatan shelter di tiap balai RT, balai RK hingga gedung pertemuan di tingkat kecamatan juga dimaksimalkan.

"Mulai pekan depan kita akan membuka Shelter Gemawang di wilayah (Kabupaten) Sleman. Kapasitas 34 orang milik Pemda DIY dan sudah memberitahukan ke Sleman tentang rencana operasional shelter tersebut. Saat ini sedang dilakukan perbaikan dan renovasi seperlunya," ujarnya yang juga Ketua Harian Satgas Covid-19 Kota Yogyakarta tersebut.

Tidak hanya itu, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY agar menyiapkan beberapa hotel untuk dijadikan sebagai shelter Covid-19. PHRI DIY sendiri telah menawarkan tiga hotel di DIY untuk dijadikan sebagai shelter.

"PHRI juga menawarkan tiga hotel sebagai shelter dan satu hotel sebagai karantina yang namanya tidak boleh disebutkan, meskipun saat ini sudah berjalan dan menampung sebagai shelter. Artinya untuk isolasi mandiri semoga masih tercukupi," jelasnya.

Sementara itu, secara keseluruhan BOR di Provinsi DIY saat ini sudah hampir 100 persen. Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY menyebut, hal ini dibuktikan dengan dibangunnya tenda darurat di beberapa rumah sakit.

"BOR rumah sakit hampir 100 persen, (saat ini) 95 persen. Itu dibuktikan dengan beberapa rumah sakit sudah pasang tenda. Artinya BOR sudah hampir penuh," kata Kepala Dinkes DIY, Pembayun Setyaningastutie dalam jumpa pers yang digelar secara daring, Senin (5/7).

Pembayun menuturkan, tenda darurat yang dipasang rumah sakit diperuntukkan dalam men-screening pasien. Sebab, dengan lonjakan kasus yang saat ini terjadi, ada kepanikan di masyarakat.

Sehingga, pasien yang seharusnya tidak perlu mendapat perawatan intensif di rumah sakit tetap datang ke rumah sakit. Padahal, pasien tersebut dapat menjalani isolasi di shelter penanganan Covid-19.

"Sekarang ada kepanikan, orang yang merasa dirinya demam, batuk itu ke rumah sakit. Semua orang maunya ke rumah sakit begitu demam dan batuk, maka tenda (dipasang) untuk men-screening itu," ujar Pembayun.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA