Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Lebanon Alami Krisis Pasokan Obat Impor untuk Warganya

Selasa 06 Jul 2021 03:09 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Christiyaningsih

Seorang lansia menerima suntikan vaksin Pfizer-BioNTech pada sesi vaksinasi Covid-19 bagi warga di  Dar Al-Ajaza Al-Islamia Hospital (Rumah Sakit Manula Muslim) di Beirut, Lebanon. Krisis keuangan yang mengerikan di Lebanon ikut menghantam sektor kesehatan. Ilustrasi.

Seorang lansia menerima suntikan vaksin Pfizer-BioNTech pada sesi vaksinasi Covid-19 bagi warga di Dar Al-Ajaza Al-Islamia Hospital (Rumah Sakit Manula Muslim) di Beirut, Lebanon. Krisis keuangan yang mengerikan di Lebanon ikut menghantam sektor kesehatan. Ilustrasi.

Foto: EPA-EFE/WAEL HAMZEH
Krisis keuangan yang mengerikan di Lebanon ikut menghantam sektor kesehatan

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Lebanon kini sedang mengalami krisis mendapatkan obat-obatan impor. Negara ini telah kehabisan ratusan obat-obatan esensial dan memperingatkan akan lebih banyak kekurangan. Kondisi ini terjadi karena krisis keuangan yang mengerikan di negara tersebut sehingga menghantam sektor kesehatan.

"Impor stok ratusan obat-obatan perusahaan untuk mengobati penyakit kronis dan tidak tersembuhkan telah habis. Dan ratusan lainnya akan habis hingga Juli jika kami tidak dapat melanjutkan impor sesegera mungkin," kata Pejabat Kesehatan Lebanon dikutip dari TRT World pada Senin (5/7).

Menurutnya pada awal Juni Lebanon kehilangan 70 persen obat-obatan dan pasokan medisnya. Hal ini terjadi karena bank sentral belum mengeluarkan dolar yang dijanjikan untuk membayar pemasok di luar negeri yang berutang lebih dari 600 juta dolar AS dalam akumulasi iuran sejak Desember dan importir tidak dapat memperoleh jalur kredit baru.

Ketua Serikat Karim Gebara mengatakan beberapa obat untuk mengobati penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, kanker, dan multiple sclerosis sudah habis. Jika tidak ada yang dilakukan, situasi akan menjadi bencana besar pada akhir Juli.

"Kondisi ini bisa merampas kesehatan ratusan ribu pasien dari pengobatan mereka," kata dia.

Selain itu, Lebanon menyediakan kurang dari lima jam listrik sehari di sebagian besar wilayah karena berjuang untuk mendapatkan mata uang asing untuk impor bahan bakar. Selama beberapa bulan terakhir, pengendara mobil di Lebanon harus mengantre berjam-jam di luar pompa bensin di bawah terik panas karena pasokan bahan bakar semakin menipis.

Pengisian mobil dengan bensin telah meningkat sebesar 55 persen dalam dua pekan terakhir karena pemerintah telah memangkas subsidi bahan bakar. Rumah sakit juga telah memperingatkan pemadaman listrik yang memburuk dan kekurangan bahan bakar juga berdampak serius pada sektor kesehatan.

"Rumah sakit memiliki stok bahan bakar yang cukup untuk mengoperasikan generator hanya untuk dua hari, bukan dua pekan," kata Kepala Perhimounan Rumah Sakit Swasta Sleiman Haroun.

Kepala Rumah Sakit Umum Utama Rafic Hariri mengatakan kekhawatiran utama saat ini bukanlah varian delta virus corona atau kekurangan pasokan. Kekhawatiran utama sekarang adalah listrik, yang tanpanya peralatan medis tidak dapat bekerja.

"Generator tua tidak dapat terus berjalan tanpa henti. Saat rusak, nyawa akan terancam," jelas dia.

Pemerintah Lebanon mengundurkan diri setelah ledakan pelabuhan yang mematikan pada 4 Agustus tahun lalu. Akan tetapi kelas politik yang sangat terpecah telah gagal sejak menyepakati kabinet baru untuk mengangkat bangsa keluar dari krisis.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA