Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Jonatan Christie Siapkan Faktor Non-Teknis di Olimpiade

Senin 05 Jul 2021 17:15 WIB

Red: Israr Itah

Tunggal putra Indonesia Jonatan Christie

Tunggal putra Indonesia Jonatan Christie

Foto: Galih Pradipta/Antara
Jonatan berkaca pada Euro 2020 di mana tim unggulan bisa tumbang dari non-unggulan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jonatan Christie akan tampil membela Indonesia di ajang Olimpiade Tokyo 2020 pada 23 Juli hingga 8 Agustus mendatang. Jonatan bersama Anthony Sinisuka Ginting jadi perwakilan Merah-Putih di sektor tunggal putra. Jojo, sapaan akrabnya, mengatakan saat ini proses persiapan terus menunjukkan hasil yang bagus, terutama di sisi teknis. Sementara di sisi nonteknis, Jojo merasa masih harus lebih fokus menyiapkannya. 

Jojo berkaca pada turnamen sepak bola Piala Eropa yang sedang bergulir saat ini. Tim yang di atas kertas seharusnya menang ternyata bisa tumbang. “Hal-hal nonteknis kadang lebih banyak bermain di pertandingan-pertandingan besar termasuk Olimpiade. Itu yang saya coba fokuskan sekarang, hal-hal nonteknis karena kalau teknis sudah lumayan baik," kata Jojo, Senin (5/7), dalam keterangan media PBSI.

Baca Juga

Menurut Jojo, yang pertama dari pikirannya. Dimulai dari masuk lapangan dinilai Jojo pasti beda dibandingkan ajang lainnya. Lalu fokusnya dan perjuangannya juga harus lebih keras dan bersemangat.

Jojo dan enam wakil Indonesia lainnya yang turun di Olimpiade menyisakan waktu tiga hari untuk memaksimalkan latihan di Tanah Air. Padi Kamis (8/7), mereka sudah terbang menuju Prefektur Kumamoto, Jepang untuk proses adaptasi dan aklimatisasi selama 10 hari sebelum menjejakkan kaki di Tokyo. Hal ini disambut baik oleh Jojo.

"Kita pergi duluan untuk training camp di Kumamoto, itu salah satu hal yang menurut saya bagus untuk kita mempersiapkan segala kondisi yang ada di Jepang. Kita bisa adaptasi suasana di sana. Sisanya mungkin hampir sama ya latihannya seperti di Jakarta, tinggal menjaga pikirannya saja," kata Jojo.

Sebagai atlet bulu tangkis, pemain kelahiran Jakarta, 15 September 1997 itu terbilang cukup sukses di ajang multievent. Jojo sudah berhasil menaklukkan SEA Games 2017 Kuala Lumpur dan Asian Games 2018 Jakarta dengan torehan medali emas. Tapi hal itu tidak membuat Jojo jumawa, ia bahkan sadar betul Olimpiade adalah ajang yang sama sekali berbeda dari multievent lain.

"Multievent itu adalah salah satu pertandingan yang lebih banyak orang tahu daripada pertandingan-pertandingan terbuka biasa. Selain itu, kadang multievent terasa lebih merepresentasikan negara. Lebih berasa aja membela Indonesia ya walau di ajang lain juga saya membawa nama Indonesia," tutur Jojo.

Suasana dan atmosfer Olimpiade diyakininya pasti berbeda dengan Asian Games. Sebab, Olimpiade ajang yang lebih besar meskipun kekuatan bulu tangkis masih ada di Asia. Jojo juga mewaspadai pemain-pemain Eropa yang makin meningkat. 

“Itu menunjukkan persaingan akan ketat di Olimpiade kali ini. Saya tidak merasa tertekan, lebih dibawa enjoy sih. Sekarang bagaimana mengatasi pikirannya, bukan pressure ya. Kan setiap atlet pasti maunya menang dan itu yang saya kontrol, saya pikirkan bagaimana mengatasinya," jelas Jojo.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA