Tuesday, 9 Rajab 1444 / 31 January 2023

Epidemiolog: Hentikan Mobilitas Warga

Ahad 04 Jul 2021 01:28 WIB

Rep: Mimi Kartika/ Red: Esthi Maharani

Suasana lalu lintas di ruas Tol Dalam Kota, kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (2/7/2021). Jelang penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Pulau Jawa dan Bali pada 3-20 Juli, lalu lintas di Ibu kota terpantau ramai lancar karena sejumlah perusahaan telah menerapkan kerja dari rumah atau WFH kepada pegawainya.

Suasana lalu lintas di ruas Tol Dalam Kota, kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (2/7/2021). Jelang penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Pulau Jawa dan Bali pada 3-20 Juli, lalu lintas di Ibu kota terpantau ramai lancar karena sejumlah perusahaan telah menerapkan kerja dari rumah atau WFH kepada pegawainya.

Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Semakin luas pembatasan mobilitas warga, makin sedikit ruang virus menginfeksi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad, mengatakan satu-satunya cara yang mempunyai efek cepat menghentikan penularan Covid-19 ialah menghentikan mobilitas penduduk. Makin luas pembatasan mobilitas warga, makin sedikit ruang virus corona untuk menginfekasi manusia.

"Satu-satunya cara yang bisa punya efek cepat untuk bisa menghentikan penularan ya menghentikan mobilitas, karena virus itu kan tidak bisa bergerak, yang membuat virus bersirkulasi itu kan mobilitas manusia," ujar Riris dalam diskusi daring, Sabtu (3/7).

Dia mengatakan, protokol kesehatan saja tidak cukup untuk membentengi diri dari penularan Covid-19 ketika tingkat paparan virusnya sudah sangat tinggi. Virus corona bekerja selama 24 jam, sedangkan protokol kesehatan hanya diterapkan di waktu dan tempat tertentu saja.

"Ini yang menyebabkan ada kalanya di saat kita sudah tidak mampu mengejar percepatan penularan kita harus menghentikan mobilitas," kata dia.

Riris menjelaskan, apabila pemerintah bisa menghentikan mobilitas penduduk dalam skala cukup besar dan lama, maka virus akan kesulitan mencari orang-orang yang masih rentan atau belum memiliki kekebalan untuk ditulari. Sehingga virus dalam tubuh seseorang akan terlebih dahulu mati sebelum menulari orang lain.

Apalagi, sudah banyak varian dari virus corona penyebab penyakit Covid-19 ini, seperti varian delta yang mampu mereplikasi diri jauh lebih tinggi dari varian sebelumnya. Sehingga, ketika seseorang lalai menerapkan protokol kesehatan dan mobilitas warga cukup tinggi, di sana lah ada risiko besar penularan Covid-19 yang masuk melalui sistem pernafasan.

Menurut Riris, pada awalnya virus corona beredar secara terbatas pada mereka yang sering bepergian, yang kebanyakan adalah masyarakat kelas sosial menengah. Sehingga, kasus-kasus infeksi di masyarakat kelas bawah sangat jarang.

Namun, masyarakat kelas atas interaksi sosialnya sangat selektif sehingga penularannya menjadi sedikit. Begitu ada momen Lebaran, terjadi interaksi sosial yang multikelas dan lebih cair, saat itu lah virus mulai merembes ke masyarakat kelas sosial bawah.

"Ini yang kemudian menyebabkan multifikasi virus menjadi lebih cepat karena interaksi sosial kemudian kepadatan penduduk menyebabkan dia lebih mudah menular," jelas Riris.

Dengan demikian, kata dia, saat ini sirkulasi virus corona sudah merambah ke seluruh lapisan masyarakat. Terutama masyarakat kalangan bawah yang interaksi sosialnya cukup tinggi dan bertempat tinggal di pemukiman padat penduduk.

"Yang berbeda saat ini, karena penularan itu tidak pada lapisan atas saja, karena sudah berada di seluruh lapisan," tutur dia

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA