Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Kata Umar Bin Abdul Aziz Soal Perang Karbala dan Shiffin

Jumat 02 Jul 2021 08:19 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah

Umar bin Abdul Aziz enggan berkomentar soal Karbala dan Shiffin. Karbala

Umar bin Abdul Aziz enggan berkomentar soal Karbala dan Shiffin. Karbala

Foto: [ist]
Umar bin Abdul Aziz enggan berkomentar soal Karbala dan Shiffin

REPUBLIKA.CO.ID,  

 

Baca Juga

 

Pada 680 M pecahlah Perang Karbala. Husain bin Ali gugur dengan keadaan memilukan. Menurut Prof Ahmad Fuad Effendy dalam tayangan Mocopat Syafaat, seperti dikutip dari laman resmi CakNun.com, Yazid bin Abi Sufyan selaku penerus Muawiyah ternyata menaruh dendam kesumat pada Ali dan anak keturunannya. 

Bahkan, raja kedua Dinasti Umayyah itu mewajibkan seluruh khatib untuk menutup khutbah shalat Jumat dengan kata-kata caci maki terhadap Ali dan keluarganya. Bila menolak, khatib yang malang itu akan dihukum. Keadaan ini terus bertahan hingga berdekade lamanya. 

Bani Umayyah lantas dipimpin Umar bin Abdul Aziz. Beberapa saat setelah dibaiat, khalifah Umar ditanya orang-orang, Bagaimana pendapat Anda tentang Perang Shiffin dan Perang Karbala? 

“Itu semua adalah pertumpahan darah yang Allah selamatkan darinya. Sungguh, aku benci untuk mengotori lisanku dengan mengomentarinya,” jawab sang khalifah. 

Maksudnya, dia tidak mau ikut-ikutan para pendahulunya dalam menaruh dendam terhadap Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Umar bin Abdul Aziz kemudian membuat dekrit yang mencabut kebijakan pengekangan terhadap para khatib Jumat. 

Dahulu, mereka diharuskan menutup khutbah dengan kata-kata penghinaan atas Ali dan anak cucunya. Kini, caci maki demikian tidak hanya dihentikan, tetapi juga diganti dengan yang lebih baik.  Umar meminta para khatib untuk menutup khutbah dengan membaca dua firman Allah Ta'ala. 

 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya, Allah menyuruh berbuat adil dan berbuat kebajikan (ihsan), memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An Nahl 90).

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Ya Tuhan kami beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan Kami, sesungguhnya Engkau Mahapenyantun lagi Mahapenyayang.” (QS Al Hasyr 10).

Tradisi mengakhiri khutbah dengan melantunkan kedua ayat itu bahkan terus berlangsung hingga saat ini. Tidak hanya di Timur Tengah, tetapi juga Indonesia. Demikianlah, Umar tidak mau memelihara dendam.

Yang dipilihnya adalah menjaga perdamaian agar menjadi contoh baik bagi generasi-generasi sesudahnya. Pemimpin yang berkarakter zuhud ini wafat pada 5 Februari 720 M dalam usia 37 tahun. 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA