Jumat 02 Jul 2021 05:03 WIB

Kisah-kisah dari Krematorium India

Pekerja krematorium berjuang untuk mengatasi jumlah kematian akibat COVID di India.

Deen Dayal Verma, seorang pekerja krematorium di Barabanki, Uttar Pradesh, duduk di bawah naungan di dalam kompleks krematorium tempat dia bekerja
Foto: Al Jazeera.com
Deen Dayal Verma, seorang pekerja krematorium di Barabanki, Uttar Pradesh, duduk di bawah naungan di dalam kompleks krematorium tempat dia bekerja

IHRAM.CO.ID, Lucknow, Uttar Pradesh --India memang di Indonesia selama ini dikesankan identik dari hiburan suka ria dan hingar bingar ala film Bollywood. Kesan kisahnya begitu membumi. Dalam film India  tampak sekali tak ada yang harus disedihkan di dunia. Semua harus gembira walaupn tengah menangis sedih. Hati manusia seakan begitu mudah dibolak-balik.

Kesan selalu gembira, optimis, dalam menjalani hidup terlihat dari kisah berikut ini yang dilansir media Al Jazeera. Bayangkan, meski hidup  dalam himpitan kemiskinan dan adanya pandemi Covid-19 varian baru yang ganas, para pembakar jenazah di sana menjalani hidupnya dengan sikap penerimaan yang biasa saja. Dan ini jelas merupakan kisah kesabaran dan keberanian di dalam menghayati peran kehidupan pada masa yang pandemi ganas ini.

Kisah ini dimulai dari cerita seorang petugas krematorium di India, Deen Dayal Verma (55 tahun). Dia mengaku bila setahun ini kini tidak pernah  merasa membakar mayat sebanyak sekarang. Bila dulu hanya beberapa orang di kremasi dalam setiap pekan, saat ini mulai subuh tempatnya terus kedatangan mayat yang harus dia kremasi.

Vayal bercerita seperti itu sembari duduk di bawah naungan atap semen di sebuah krematorium di kota Barabanki. Dia juga mengaku telah menjadi pekerja krematorium selama enam tahun. Ia mengisahkan semua kisahnya sembari tersenyum masam:

“Sebenarnya, apakah tidak lagi ada mayat yang datang hari ini? Apakah COVID-19 sudah berakhir atau mayatnya dibawa ke krematorium lain?” keluhnya sembari bertanya.

Di India, di mana kremasi di lakukan dia atas tumpukan kayu pemakaman yang terbuat dari kayu telah lama, selama ini telah  menjadi bagian dari ritual yang rumit untuk menghormati orang mati. Hal tersebut juga mengandung makna religius. Dan sejak adanya pandemi Covid gelombng kedua memang mayat terus berdatangan untuk dia kremasi.

Uniknya, Deen Dayal menunggu pekerjaan datang tersebut dengan sikap biasa. Dia tetap tenang menunggu kedatangan jenazah sembari mengisap bidi (cerutu mini yang diisi dengan serpihan tembakau dan dibungkus dengan daun tendu yang diikat dengan tali).

“Saya hari ini belum menghitung jenazah yang datang. Tetapi pada bulan April dan Mei, saya bekerja dari jam 5 pagi hingga tengah malam setiap hari. Saya pikir saya menyalakan lebih dari 100 tumpukan kayu bakar selama bulan April itu. Saat seolah tidak ada habisnya mayat yang datang ke krematorium ini,” katanya. “Sebelum gelombang kedua COVID-19 berbeda sekali. Paling hanya tiga hingga empat mayat masuk per minggu.”

Tales from an Indian crematorium | Coronavirus pandemic – Breaking News,  World Latest News, India News, Today's News, India Latest Stories

Keterangan foto: rematorium Barabanki, tempat Deen Dayal Verma bekerja. Barabanki adalah 30km (19 mil) timur ibukota negara bagian Uttar Pradesh, Lucknow. Uttar Pradesh adalah negara bagian terpadat di India [Saurabh Sharma/Al Jazeera]

Deen Dayal adalah satu-satunya orang yang masih bekerja di krematorium ini. Dia memiliki rumah kecil dengan dua kamar yang dialokasikan untuknya di tempat itu. Dia tinggal bersama tiga anaknya – putri sulungnya, Soni, (14 tahun) dan merawat dua adik laki-lakinya di siang hari.

Istri dia telah kembali ke rumah keluarga di sebuah desa 48km (30 mil) jauhnya, di mana empat anaknya yang lain tinggal bersamanya. Deen Dayal sampai kini belum mengunjungi, Setidaknya selama dua bulan terakhir karena takut menularkan virus ke orang lain.

Krematoriumnya memang sekarang menjadi sangat sibuk. Deen Dayal mengatakan dia tidak lagi bisa menunggu petugas kebersihan kota datang setiap pagi. Dia harus naik dan melakukannya sendiri ke atas tumpukan kayu sehingga keluarga tidak perlu lama menunggu kesiapan krematorium.

“Selama dua bulan terakhir, beban kerja meningkat begitu banyak sehingga saya sekarang mengembangkan kebiasaan bangun pagi. Saya tidak ingin membuat orang menunggu dengan mayat; Saya tidak merasa baik bagi orang-orang yang menunggu giliran untuk kremasi dengan mayat-mayat mereka,'' ujarnya.

Negara bagian Uttar Pradesh, yang lebih padat penduduknya daripada Brasil, adalah yang paling parah terkena dampak di India selama gelombang kedua COVID. Di sana orang-orang berjuang untuk mendapatkan oksigen, perawatan di rumah sakit, dan perawatan kesehatan.

Negara bagian telah mencatat lebih dari 20.787 kasus kematian, dengan ribuan lainnya diperkirakan tidak dilaporkan karena kurangnya pengujian COVID yang tepat. Hingga 3 Juni, India secara resmi mencatat 337.787 kematian akibat pandemi tersebut.

Tales from an Indian crematorium | Coronavirus pandemic | Al Jazeera

Keterangan  foto: Deen Dayal Verma, seorang pekerja krematorium, duduk di luar penginapannya yang terdiri dari dua kamar yang dia tinggali bersama tiga anaknya. [Saurabh Sharma/Al Jazeera]

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement