Thursday, 9 Safar 1443 / 16 September 2021

Thursday, 9 Safar 1443 / 16 September 2021

Pemkab Magetan Dorong Kopi Alastuwo Jadi Komoditas Andalan

Rabu 30 Jun 2021 23:57 WIB

Red: Bayu Hermawan

Biji kopi sangrai. Ilustrasi

Biji kopi sangrai. Ilustrasi

Foto: Alexas_Fotos from Pixabay
Pemkab Magetan ingin Kopi asal Alastuwo jadi komoditas andalan.

REPUBLIKA.CO.ID, MAGETAN -- Pemerintah Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mendorong kopi Alastuwo yang dikembangkan oleh petani kopi di Kelurahan Alastuwo, Kecamatan Poncol untuk menjadi komoditas andalan di wilayah setempat.

"Produk kopi asli gapoktan ini sudah ditanam warga setempat sejak zaman Belanda. Tentu cita rasanya tidak perlu diragukan lagi. Jadi, silakan datang ke Alastuwo dan coba produk kopi asli Gunung Tambal, Poncol, Magetan," ujar Bupati Magetan Suprawoto di Magetan, Rabu (30/6).

Baca Juga

Suprawoto ingin agar perkebunan kopi di Gunung Tambal, Poncol tersebut bisa lebih berkembang. Ia juga ingin agar petani kopi setempat berinovasi mengemas kopi lokal tersebut sebagus mungkin sehingga dapat menarik wisatawan di masa mendatang.

Selain itu, komoditas unggulan tersebut juga dapat dikolaborasikan dengan sejumlah tempat wisata yang ada di Kecamatan Poncol, sehingga terbentuklah spot wisata yang unik dan saling menunjang satu sama lain untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di masa mendatang.

Ketua Kelompok Tani Gunung Tambal Sukmono mengatakan kopi Alastuwo yang dikembangkan di desanya tersebut merupakan jenis robusta dan exelsa. "Sejauh ini luasan perkebunan kopi yang dikembangkan di kawasan Gunung Tambal telah mencapai 5,5 hektare," kata Sukmono.

Dengan luas 5,5 hektare tersebut, setiap musim panen bisa menghasilkan 8,5 ton kopi glondong kering. Angka produksi itu untuk sementara hanya cukup memenuhi kebutuhan lokal saja. Pihaknya bersama anggota kelompok tani setempat terus berupaya menambah luasan perkebunan kopi tersebut, karena memang cukup menjanjikan.

"Luasan penanaman kopi akan ditambah, sebab tanaman kopi itu secara ekonomi lebih menjanjikan dari pada tanaman yang lain," kata Sukmono.

Untuk menambah nilai ekonomi, sebagian petani tidak menjual kopi dalam bentuk biji glondongan kering. Namun, memilih dengan mengolah lagi menjadi bubuk kopi siap saji.

"Nah bubuk kopi yang sudah ada, selanjutnya siap dikemas rapi agar mudah dipasarkan. Hal demikian yang kini sedang kami kembangkan," tambahnya.

Pihaknya berharap pangsa pasar kopi Gunung Tambal tidak hanya dinikmati oleh penggemar kopi lokal. Tetapi juga bisa menembus pangsa pasar luar daerah. Khususnya di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA