Rabu 30 Jun 2021 03:55 WIB

BGR Logistics-ITS Kembangkan Bahan Bakar Alternatif

ITS memperkirakan mampu memproduksi seribu liter setiap lima jam produksi.

Rep: Muhammad Nursyamsi / Red: Satria K Yudha
Petugas menunjukkan sampel bahan bakar B30 saat peluncuran uji jalan Penggunaan Bahan Bakar B30 untuk kendaraan bermesin diesel di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6). Uji jalan kendaraan berbahan bakar campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar atau B30 dengan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer tersebut bertujuan untuk mempromosikan kepada masyarakat bahwa penggunaan bahan bakar itu tidak akan meyebabkan performa dan akselerasi kendaraan turun.
Foto: Prayogi/Republika.
Petugas menunjukkan sampel bahan bakar B30 saat peluncuran uji jalan Penggunaan Bahan Bakar B30 untuk kendaraan bermesin diesel di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6). Uji jalan kendaraan berbahan bakar campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar atau B30 dengan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer tersebut bertujuan untuk mempromosikan kepada masyarakat bahwa penggunaan bahan bakar itu tidak akan meyebabkan performa dan akselerasi kendaraan turun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bhanda Ghara Reksa (Persero) atau BGR Logistics dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menandatangani kerja sama operasi (KSO) tentang teaching factory pengelolaan minyak jelantah. Pengelolaan dilakukan dengan menggunakan integrated biodiesel laboratory.

Seremonial kerja sama dilaksanakan secara daring, ditandatangani langsung oleh Direktur Utama BGR Logistics M Kuncoro Wibowo dan Rektor ITS Mochamad Ashari dari tempat kerja masing-masing pada Senin (28/6). Kuncoro Wibowo mengatakan, minyak jelantah dapat diolah menjadi biodiesel yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk kendaraan maupun mesin berbahan dasar solar. 

"Namun, saat ini belum banyak instansi terkait yang serius untuk memanfaatkan hal tersebut untuk mengubah minyak goreng bekas pakai (jelantah) menjadi biodiesel dan gliserin," ujar Kuncoro dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (28/6).

Kata Kuncoro, kerja sama ini merupakan tindak lanjut atas perjanjian yang telah dilaksanakan pada Oktober 2020. Ke depannya, kerja sama akan berfokus pada proses eksekusi yang mana akan dikembangkan suatu ekosistem yang dapat memproduksi bahan bakar nabati sendiri. 

Kuncoro menjelaskan, BGR Logistics dan ITS sepakat membentuk tim KSO untuk segera merealisasikan kerja sama ini. "BGR Logistics sebagai beyond digital logistics company melihat dan menginginkan suatu inovasi terkait daur ulang minyak jelantah yang potensi ke depannya sangat besar bagi masyarakat dan lingkungan," ucap Kuncoro.

Menurut Kuncoro, pembangunan teaching factory integrated biodiesel laboratory bertujuan sebagai sarana pembelajaran dan penelitian mahasiswa dan/atau civitas akademika ITS dalam mengelola minyak bekas goreng pakai (jelantah) menjadi bahan bakar nabati (BBN) biodiesel dan gliserin.

Kuncoro mengatakan hasil produksi mini plant biodiesel (sesuai SNI) akan digunakan sebagai bahan bakar kendaraan BGR Logistics dan/atau komersialisasi produk biodiesel dan gliserin yang dilakukan oleh ITS. 

Rektor ITS Mochamad Ashari mengatakan, kerja sama ini menjadi tonggak sejarah baru untuk mengembangkan suatu teaching factory. Kata Ashari, bentuk kerja sama ini akan memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan, kampus, pendapatan, pengembangan, hingga kolaborasi baik dengan kementerian dan instansi lainnya.

Ashari menyampaikan, ITS dan BGR Logistics akan meneruskan program kerja sama ini sebagai wujud kontribusi dalam mendukung upaya penghijauan di Indonesia. Hal ini seiring dengan rencana pemerintah dalam menetapkan biodiesel sebagai bahan bakar alternatif utama. 

"Kami berharap program ini dapat diresmikan pada Dies Natalis ITS ke-61 sehingga dapat segera dimanfaatkan," ujar Ashari.

Wakil Rektor IV Bambang Pramujati menyampaikan, program kerja sama ini menjadi sarana pembelajaran dan penelitian dalam pengelolaan hingga produksi bahan bakar nabati biodiesel dan gliserin dengan bahan baku minyak jelantah. 

"Minyak jelantah merupakan salah satu limbah yang banyak diproduksi terlebih dari industri pangan," ucap dosen Departemen Teknik Mesin tersebut.

Menurut Bambang, proses pelaksanaan akan dilaksanakan sebanyak dua tahap secara garis besar. Pada tahap pertama akan dilakukan riset pengelolaan yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Kemudian dilanjutkan dengan proses produksi, utilisasi, hingga komersialisasi.  "ITS memperkirakan mampu memproduksi seribu liter setiap lima jam produksi," kata Bambang.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement