Selasa 29 Jun 2021 12:56 WIB

Kiai Ahmad Hanafiah, Inisiator Laskar Hizbullah Lampung  

Makam Kiai Ahmad Hanafiah Lampung tak diketahui hingga kini

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah
Makam Kiai Ahmad Hanafiah Lampung tak diketahui hingga kini. Ilustrasi Laskar Hizbullah
Foto: Foto: 50 tahun Indonesia Merdeka
Makam Kiai Ahmad Hanafiah Lampung tak diketahui hingga kini. Ilustrasi Laskar Hizbullah

REPUBLIKA.CO.ID, Pada masa pendudukan Jepang, salah satu organisasi yang terbentuk adalah Laskar Hizbullah. Berdiri sejak 1944, laskar ini menjadi medium pendidikan pa ramiliter bagi pemuda santri. Di dalam dada mereka, tertanam semangat mempertahankan Tanah Air. Bahkan, hal itu diyakini sebagai sebuah jihad di jalan Allah (fii sabilillah). 

Para pejuang Muslim lantas mendirikan cabang-cabang organisasi ini di berbagai daerah, termasuk Karesidenan Lampung. Di sana, Laskar Hizbullah pun menyebar ke berbagai kawasan, seperti Teluk Betung, Tanjung Karang, Pringsewu, Metro, dan Sukadana. 

Baca Juga

Di tempat yang terakhir disebut, inisiatornya adalah seorang dai bernama KH Ahmad Hanafiah. Ia memiliki latar belakang santri. Orang tuanya merupakan pendiri pesan tren pertama di seluruh Karesi denan Lampung. 

Saat terjadinya Perang Dunia II, Belanda tidak dapat mempertahankan Indonesia. Nusantara pun jatuh ke tangan Jepang. Pada masa pendudukan Dai Nippon di Tanah Air Kiai Ahmad Hanafiah diangkat menjadi anggota Saingkai atau semacam anggota dewan daerah di Karesidenan Lampung. Dari sinilah bermula kiprahnya dalam dunia perpolitikan. Pada akhirnya semangat jihad terus mendorongnya untuk berjuang dalam membebaskan Indonesia.

Dalam sosok KH Ahmad Hanafiah tersimpan sifat pemimpin yang alim. Ia memiliki pengetahuan yang mendalam menge nai agama. Semasa hidupnya, telah berlalu masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang. Itu membuat dirinya selalu menentang setiap bentuk penjajahan. 

Dalam masa mempertahankan kemerekaan Indonesia pada 1945, panglima Laskar Hizbullah ini sempat menjabat beberapa kali posisi penting di bidang politik. Kala itu, seluruh elemen bangsa berupaya menjaga kedaulatan negeri. Mereka sangat tidak ingin Belanda yang mau menjajah lagi Indonesia. 

Di Sukadana, Karesidenan Lampung, Kiai Ahmad sudah mempersiapkan diri dan para pengikutnya. Semuanya langsung terjun ke lapangan untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. 

Sewaktu Agresi Militer I terjadi pada 1947, kaum penjajah melancarkan serangan serentak di sejumlah titik strategis. Provinsi Sumatra Selatan pun tak luput dari serbuan musuh. Saat itu, Belanda juga mulai menyerang Lampung yang menjadi bagian inti Karesidenan Sumatra Selatan melalui jalur darat dari Palembang.

Agresi militer Belanda memicu perlawanan laskar rakyat. Mereka bersama dengan TNI menggempur kekuatan Belanda dalam pertempuran di Kemarung. Itu adalah suatu tempat di area hutan belukar yang terletak dekat Baturaja ke arah Martapura, Sumatra Selatan.

Di sinilah terjadi pertempuran hebat antara laskar rakyat melawan Belanda. Perlawanan laskar rakyat tergabung dalam barisan Hizbullah dan Sabilillah yang bersenjatakan golok. Namun, informasi TNI dan Laskar Hizbullah yang berencana menyerang Baturaja telah dibocorkan mata-mata. Para tentara Indonesia pun mundur ke Martapura.

Sementara, pasukan Laskar Hizbullah yang tengah beristirahat di Kemarung disergap Belanda dan terjadilah pertempuran hebat. Anggota laskar itu banyak yang gugur dan tertawan. Kiai Ahmad Hanafiah sendiri ditangkap hidup-hidup.

Ia lantas dimasukkan dalam karung dan ditenggelamkan di Sungai Ogan. Akibat penyiksaan ini, dirinya meninggal dunia. Hing ga sekarang, jenazah ataupun kuburan sang pahlawan tidak diketahui dengan pasti.

KH Ahmad Hanafiah meninggal dunia saat berjuang melawan penjajahan Belanda, tepatnya saat terjadinya Agresi Militer Belanda I yang terjadi di front Kamerung, Baturaja, Sumatra Selatan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia wafat pada 17 Agustus 1947, bertepatan dengan ulang tahun kemerdekaan Indonesia.

Tokoh ini dikenal sebagai sosok pejuang yang pemberani, ditakuti, dan disegani lawan. Kendati demikian, ia mempunyai sifat-sifat rendah hati dan tidak mau menonjolkan diri. Ia selalu berjuang tanpa pamrih. Selama hidupnya, ia memiliki banyak pengalaman.

Di antaranya adalah pernah menjadi ketua Partai Masyumi dan pimpinan Laskar Hizbullah Ke wedanan Sukadana. Selain itu, ia pernah menjadi anggota DPR Karesidenan Lampung pada 1946-1947. Jabatan lainnya adalah wakil kepala merangkap kepala bagian Islam pada kantor Jawatan Agama Karesidenan Lampung sejak awal 1947.     

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement