Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Tes Covid Jadi Ladang Bisnis, Epidemiolog: Sudah Diprediksi

Senin 28 Jun 2021 22:24 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati  / Red: Bayu Hermawan

Tes Covid-19 (ilustrasi)

Tes Covid-19 (ilustrasi)

Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Epidemiolog sudah memprediksi tes Covid-19 bisa dijadikan ladang bisnis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat ini banyak klinik dan laboratorium di Tanah Air yang menawarkan tes Covid-19 dengan harga bervariasi dan rentan terjadi permainan. Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengatakan pemeriksaan Covid-19 yang ditawarkan klinik menimbulkan permainan harga merupakan hal yang sudah diprediksi sejak awal.

"Ini sudah diprediksi sejak awal ketika testing tidak difasilitasi, tidak disediakan akan jadi ladang bisnis. Ini jelas," ujarnya saat dihubungi  Republika.co.id, Senin (28/6). 

Baca Juga

Dicky melanjutkan, pihak yang diuntungkan denga pemeriksaan tes ini hanya kelompok tertentu saja. Sedangkan masyarakat secara keseluruhan terutama menengah kebawah akan dirugikan. Sebab, dia melanjutkan, ketika berbicara mengenai biaya, kondisi saat ini saja membuat mereka terpuruk secara ekonomi. 

"Kemudian tes-tes yang harus bayar juga menjadi beban tersendiri buat mereka," katanya.

Ia mencontohkan, banyaknya biaya tes ini memicu protes di Madura karena harus bayar dengan jumlah tidak sedikit. Selain itu, dia menambahkan, besarnya biaya pemeriksaan Covid-19 membuat cakupan testing Indonesia tidak akan meningkat. 

"Makanya testing Indonesia terendah diantara negara-negara Asean seperti Thailand, Malaysia, Singapura. Indonesia dibawah 100 per 1.000 penduduk per pekan," ucapnnya.

Dicky melanjutkan, Singapura dengan jumlah penduduknya lebih sedikit dibandingkan Indonesia sudah menembus pemeriksaan 1.000 per 1.000 penduduk. Rendahnya pemeriksaan ini diakui akhirnya mempengaruhi bagaimana respons pengendalian dan status kualitas pengendalian pandemi. 

"Karena testing kan penting. Kalau tidak dirubah, cakupan testing begitu aja," ucapnya.

Dicky juga mengkritik Indonesia yang minim monitoring tes Covid-19. Menurutnya, jangankan yang di masyarakat, tes di bandara yang dekat dengan pemantauan dan keamanan saja bisa dipalsukan dan diadur ulang.  "Padahal, untuk menjamin keamanan pemeriksaan Covid-19 ya harus ada mekanisme monitoring yang kuat, ketat, dan quality assurance. Buat saya ini jadi PR besar," katanya. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA