Sunday, 28 Syawwal 1443 / 29 May 2022

Moeldoko: Saya Berkali-Kali Konsumsi Ivermectin, Sehat Saja

Senin 28 Jun 2021 13:25 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Ratna Puspita

Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko

Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko

Foto: M RISYAL HIDAYAT/ANTARA
Moeldoko menilai pernyataan dokter bahwa ivermectin berisiko bukan hal bijaksana.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Staf Presiden Moeldoko kembali buka suara terkait penggunaan ivermectin sebagai obat penunjang kesembuhan pasien Covid-19. Moeldoko juga menilai pernyataan dokter atau pakar yang menyebutkan bahwa ivermectin memberi risiko kematian kepada pemakainya bukanlah hal yang bijaksana. 

Ia meminta masyarakat tidak terjebak dalam perdebatan yang kontraproduktif soal ivermectin ini. "Saya berkali-kali sudah menggunakan, sehat-sehat saja," kata Moeldoko dalam diskusi yang digelar Frontline Covid-19 Critical Care Alliance (FLCCC), Senin (28/6). 

Baca Juga

Menurutnya, situasi krisis terkait penularan Covid-19 yang semakin meluas ini harus disikapi dengan strategi khusus. Salah satunya, memanfaatkan ivermectin untuk membantu proses penyembuhan. 

"Dalam hadapi kondisi kritis sekarang ini apakah harus diam? Menurut saya tidak.Diam ada resiko kematian. Melakukan sesuatu belum tentu mati. sebuah pilihan. Pilihan bijaksana melakukan sesuatu," kata Moeldoko.

Kendati demikian, Moeldoko memastikan bahwa dirinya dan pihak yang mendukung penggunaan ivermectin sebagai obat terapi Covid-19 tidak abai terhadap riset dan kajian ilmiah yang dilakukan. Dari penelitian ilmiah itulah, Moeldoko malah menemukan berbagai data pendukung bahwa ivermectin ampuh menunjang kesembuhan pasien Covid-19. 

"Di Kota Tangerang, Jaktim, Depok, Bekasi menghasilkan tingkat kemanjuran yang hampir di seluruh daerah mendekati 100 persen untuk turunkan covid-19," kata Moeldoko. 

Moeldoko menambahkan, penggunaan ivermectin sudah terbukti ampuh di beberapa daerah. Di Semarang misalnya, 40 orang berhasil sembuh dari Covid-19. Ivermectin juga digunakan oleh 25 orang di Sragen dan 13 orang di Kudus. 

"Melihat data sementara ini, kami cukup optimis bahwa ivermectin dapat menjadi solusi obat efektif menyembuhkan pasien covid," katanya. 

Berdasarkan bukti ilmiah dan hasil implementasi awal di beberapa daerah ini, Moeldoko akan melanjutkan pembagian ivermectin kepada seluruh anggota HKTI di daerah, khususnya di zona merah. "Saya juga menekankan, kehati-hatian dan kritis terhadap obat baru, adalah hal penting," kata Moeldoko. 

Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan bahwa data hasil uji klinik penggunaan Ivermectin untuk pengobatan Covid-19 hingga saat ini belum tersedia. Ivermectin belum dapat disetujui digunakan untuk keperluan pengobatan Covid-19.

Sebelumnya, Kementerian BUMN menegaskan bahwa obat Ivermectin yang diproduksi PT Indofarma Tbk merupakan obat antiparasit, bukan obat Covid-19. Namun, obat tersebut bisa digunakan untuk terapi bagi orang yang terjangkit Covid-19 atas persetujuan dokter.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan, Menteri BUMN Erick Thohir tidak pernah menyatakan bahwa Ivermectin sudah mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai obat Covid-19. "Justru beliau mengatakan, BPOM memberikan izin edar Ivermectin untuk antiparasit. Ivermectin ini, seperti disampaikan Pak Erick, itu bisa menjadi terapi untuk orang yang terkena korona," kata Arya, di Jakarta, Selasa (22/6).

Arya mengatakan, sampai saat ini belum ada obat khusus untuk Covid-19. Ia menekankan, Ivermectin tak berbeda dengan oseltamivir, favipiravir, dan remdesivir yang digunakan untuk terapi dan mendapatkan rekomendasi dari dokter.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA