Monday, 11 Jumadil Awwal 1444 / 05 December 2022

Thailand Berlakukan Pembatas di Bangkok dan 5 Provinsi

Ahad 27 Jun 2021 07:19 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Dwi Murdaningsih

Orang-orang menunggu vaksinasi AstraZeneca COVID-19 di pusat perbelanjaan Paragon di Bangkok, Thailand, Senin, 7 Juni 2021.

Orang-orang menunggu vaksinasi AstraZeneca COVID-19 di pusat perbelanjaan Paragon di Bangkok, Thailand, Senin, 7 Juni 2021.

Foto: AP/Sakchai Lalit
Pembatasan diterapkan selama 30 hari dan mulai berlaku pada Senin (29/6).

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK -- Thailand mengumumkan pembatasan baru yang berpusat di sekitar ibu kota Bangkok diberlakukan, Ahad (27/6). Pembatasan ini dalam upaya untuk mengatasi wabah virus corona terburuk di negara itu.

Menurut sebuah dokumen yang diterbitkan dalam lembaran kerajaan Thailand, langkah-langkah baru itu akan diterapkan selama 30 hari dan mulai berlaku pada Senin (29/6). Pembatasan ini termasuk larangan makan di restoran di Bangkok dan lima provinsi sekitarnya. 

Baca Juga

Pusat perbelanjaan di Bangkok dan lima provinsi harus ditutup pada pukul 21.00 waktu setempat. Sedangkan pesta, perayaan, atau kegiatan yang melibatkan pertemuan lebih dari 20 orang akan dilarang untuk durasi yang sama. 

Lokasi konstruksi di enam area yang sama pun akan ditutup. Kamp pekerja juga akan ditutup untuk menampung terjadinya kluster. Perintah itu menyusul munculnya lebih banyak kelompok di kamp-kamp konstruksi di ibu kota, yang memiliki 575 lokasi seperti itu yang menampung sekitar 81.000 pekerja. Sejak Mei, 37 kluster telah ditemukan di kamp-kamp Bangkok. 

Pihak berwenang akan mendirikan pos pemeriksaan di Bangkok dan lima provinsi untuk membatasi perjalanan dan relokasi pekerja konstruksi. Akan ada pula pos pemeriksaan di empat provinsi selatan di dekat Malaysia.

#BangkokLockdown menjadi tren di Twitter pada dini hari hingga Ahad. Pengguna internet mengkritik waktu pengumuman dan mengatakan mereka terkejut dengan langkah-langkah baru.

Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha mengatakan pada Jumat (25/6) bahwa dia ingin menghindari kata lockdown. Dia lebih memilih menargetkan bisnis dan kegiatan tertentu untuk menahan penyebaran virus.

 

sumber : reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA