Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Norwegia Pertimbangkan Penyuntikan Tiga Dosis Vaksin Covid

Jumat 25 Jun 2021 17:10 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Warga Norwegia bersiap untuk mendapatkan vaksin Covid-19, 21 Januari 2021

Warga Norwegia bersiap untuk mendapatkan vaksin Covid-19, 21 Januari 2021

Foto: EPA-EFE
Dosis ketiga dapat tingkatkan perlindungan dan kekebalan jangka panjang

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Institut Kesehatan Masyarakat Nasional (FHI) Norwegia saat ini sedang berupaya mengidentifikasi kelompok risiko yang mungkin memerlukan booster vaksin. Tambahan vaksin ekstra ini artinya orang dapat menerima dosis ketiga untuk melawan Covid-19.

Surat kabar Verdens Gang melaporkan dua dosis vaksin dianggap cukup untuk yang sehat dan kuat, tetapi dosis ketiga dapat meningkatkan perlindungan dan memberikan kekebalan jangka panjang bagi orang-orang lemah. Mereka yang dianggap membutuhkan dosis tambahan termasuk dalam berbagai kelompok risiko.

Kepala dokter FHI Sara Viksmoen Wattle mengatakan kemungkinan besar hanya memberikan suntikan booster kepada kelompok berisiko seperti orang tua, orang dengan sistem kekebalan yang lemah, atau orang lain yang belum menerima perlindungan yang cukup baik. Misalnya, orang yang telah menerima transplantasi organ dapat menerima dosis vaksin baru di musim gugur, sementara kelompok berisiko lainnya mungkin menerima tawaran untuk musim dingin.

"Untuk orang sehat yang divaksinasi musim panas ini, mungkin akan lama sampai ada kebutuhan untuk suntikan booster, jika memang dibutuhkan,” kata Wattle dikutip dari Sputniknews.

Wattle mengatakan kapan dan apakah akan memberikan suntikan booster adalah pertanyaan yang rumit. Hingga kini masih belum diketahui tingkat perlindungan yang diberikan antibodi dari upaya itu.

"Misalnya, untuk Hepatitis B, kami tahu jika Anda memiliki tingkat antibodi tertentu, maka Anda terlindungi. Kami tidak tahu level untuk Covid-19 dan tidak pasti kami akan mengetahuinya," ujar Wattle.

"Kemudian kita harus melihat apakah kejadian infeksi terobosan di antara yang divaksinasi lengkap meningkat. Mendeteksi virus tanpa sakit itu sendiri bukanlah tanda bahwa vaksin tidak berfungsi," ujar Wattle.

Untuk saat ini, Wattle menyatakan, vaksin dianggap efektif setidaknya selama enam bulan dan mungkin bahkan lebih lama. FHI juga sedang mengerjakan vaksin mana yang mungkin relevan untuk digunakan dalam program tersebut.

Vaksin yang akan menjadi tambahan harus memiliki beberapa kriteria. Vaksin baru yang diubah yang disesuaikan dengan varietas baru dan kombinasi vaksin dilengkapi dengan jenis yang berbeda, misalnya vaksin berbasis protein ditambah vaksin RNA.

Sebelumnya telah terjadi perdebatan antara FHI dan Direktorat Kesehatan Norwegia mengenai perlunya dosis ketiga. Asisten Direktur Kesehatan Espen Rostrup Nakstad mengatakan pada awal musim semi, bahwa mungkin diperlukan dosis vaksin ketiga jika varian Delta menyebar. Sebaliknya, Preben Aavitsland dari FHI membantah tidak ada data yang mendukung hal ini.

Beberapa negara, termasuk Denmark, ingin menerapkan hal serupa. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen sebelumnya menyatakan populasi perlu divaksinasi berulang kali.

Sedangkan Inggris saat ini sedang mempertimbangkan untuk memberikan suntikan booster kepada populasi. Negara ini telah membuat penelitian dengan tujuh vaksin berbeda diuji untuk melihat mana yang paling berhasil.

sumber : Sputnik
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA