Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Pfizer-BioNTech Klaim Vaksinnya Efektif Lawan Covid-19 Delta

Jumat 25 Jun 2021 12:58 WIB

Rep: Rizky Surya/ Red: Nur Aini

Vaksin Pfizer-BioNTech

Vaksin Pfizer-BioNTech

Foto: EPA-EFE/Mourad Balti Touati
Varian Covid-19 Delta mendominasi kasus secara global

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Direktur medis Pfizer, Alon Rappaport, mengklaim vaksin buatan perusahaannya bersama BioNTech sangat efektif melawan varian Covid-19 Delta. Klaim itu didasarkan pada data penelitian perusahaan tersebut.

Pertama kali diidentifikasi di India, Delta menjadi varian virus corona yang dominan secara global menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Baca Juga

"Data yang kami miliki hari ini, akumulasi dari penelitian yang kami lakukan di lab dan termasuk data dari tempat-tempat di mana varian India, Delta, telah menggantikan varian Inggris sebagai varian umum, menunjukkan bahwa vaksin kami sangat efektif, sekitar 90 persen dalam mencegah penyakit virus corona, Covid-19," kata Rappaport dilansir dari kantor berita Reuters pada Jumat (25/6).

Sebuah studi oleh para peneliti dari University of Texas bersama dengan Pfizer dan BioNtech telah diterbitkan bulan ini oleh jurnal Nature. Studi itu menemukan bahwa antibodi yang ditimbulkan oleh vaksin masih mampu menetralkan semua varian yang diuji, termasuk Delta. Walaupun dengan kekuatan vaksin yang berkurang menghadapi varian Covid-19.

"Kami terus mensintesis virus di laboratorium kami dan melihat varian baru muncul sehingga dapat melakukan pengujian untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin tentang dampak vaksin pada netralisasi strain yang muncul," kata juru bicara Pfizer dalam email kepada Reuters.

Studi terbaru lainnya juga menunjukkan bahwa vaksin tersebut kemungkinan akan memberikan perlindungan tinggi terhadap varian tersebut. 

Israel memiliki tingkat vaksinasi tertinggi yang sebagian besar didasarkan pada suntikan Pfizer-BioNTech. Sharon Alroy-Preis selaku kepala kesehatan masyarakat di Kementerian Kesehatan Israel, mengatakan Israel masih kekurangan data yang cukup untuk memberikan wawasan tentang efektivitas vaksin terhadap varian Delta. 

"Kami sedang mengumpulkan data sekarang. Kami baru melihat kasus pertama varian Delta di Israel - sekitar 200 di antaranya - jadi kami akan segera mengetahuinya," kata Alroy-Preis.

Di Israel, lebih dari setengah dari 9,3 juta populasi telah menerima suntikan Pfizer dan penurunan tajam dalam kasus telah mendorong pihak berwenang untuk mencabut sebagian besar pembatasan virus corona. Tetapi kasus yang dikonfirmasi telah meningkat dalam beberapa hari terakhir dan otoritas kesehatan telah mendesak orang tua untuk memvaksinasi anak mereka yang berusia 12 hingga 15 tahun, yang memenuhi syarat bulan ini. 

"Sekitar 65 persen populasi Israel terlindungi dari Covid-19, baik dengan vaksinasi atau dengan pemulihan dari penyakit, angka yang menurutnya masih jauh dari memberikan herd immunity," ujar Alroy-Preis.

Adapun analisis oleh Public Health England (PHE), di mana varian Delta lebih tersebar luas, menemukan vaksin Pfizer/BioNTech dan AstraZeneca (AZN.L) memberikan lebih dari 90 persen perlindungan terhadap rawat inap dari varian Delta. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA