Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Opini: Anak Muda Lupa Pahlawan, Saatnya Pancasila Dibumikan

Kamis 24 Jun 2021 20:12 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Plt. Sestama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Karjono. Karjono menyebut  contoh paling mudah menjadikan Pancasila sebagai way of life, adalah bagaimana memaknai perbedaan.

Plt. Sestama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Karjono. Karjono menyebut contoh paling mudah menjadikan Pancasila sebagai way of life, adalah bagaimana memaknai perbedaan.

Foto: BPIP
Dalam Opini BPIP ingatkan saat ini waktu tepat Pancasila dibumikan kembali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anak muda atau sering kali disebut milenial saat ini banyak tak hafal Pancasila. Sehingga butuh strategi kontinyu agar Pancasila tak hanya dipahami, tapi bisa diimplementasikan sehari-hari. Demikian intisari Obrolan Peneliti (Opini) secara daring, Kamis (24/6). 

Opini adalah wadah publikasi para peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Hukum dan HAM (Balitbangkumham) agar bisa diimplementasikan  masyarakat. Bulan ini, diskusi bertemakan 'Pancasila Sebagai Way of Life: antara Teks dan Konteks'.

Hadir sebagai pembicara antara lain, Plt. Sestama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Karjono, Kepala Balitbangkumham Sri Puguh Budi Utami, Sekjen Kemenkominfo Mira Thayiba, Anggota Komisi III DPR M Nurdin, dan peneliti muda Horison Citrawan. Dalam sambutannya, Sri Puguh Utami mengomentari sejumlah video yang sempat viral. 

Dalam video itu, diperlihatkan anak-anak yang begitu hafal wajah-wajah artis, namun lupa saat disodorkan foto wajah pahlawan. Ada juga yang tak hafal sila dalam Pancasila. 

"Ini kesempatan bagi kita membumikan  nilai Pancasila. Tidak hanya dimaknai, tapi diimplementasikan baik. Perlu strategi yang harus dilakukan terus menerus seperti kegiatan hari ini," kata Utami. 

Sementara itu, Karjono menyebut  contoh paling mudah menjadikan Pancasila sebagai way of life, adalah bagaimana memaknai perbedaan. Keberagaman bukan alasan memantik permusuhan. "Perbedaan justru sebuah kekuatan, bukan penghalang," tandas Karjono.  

Menurut dia, sesuatu yang berbeda kalau disamakan justru tidak baik. "Contohnya pakai sandal, kalau dua-duanya kanan kan tidak enak dipakai," cetus Fungsional Perancang Peraturan Perundang-undangan Ahli Utama di BPIP ini. 

Karjono menambahkan, Pancasila sebagai way of life adalah dengan menghormati antar agama. Lantaran proses lahirnya Pancasila juga banyak melibatkan tokoh agama. Seperti dari Muhammadiyah misalnya; Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo, Abdul Kahar Muzakirm. Sementara dari Nahdlatul Ulama ada KH Wahid Hasyim. Juga ada perwakikan dari agama lain. 

Adapun Horison Citrawan mengatakan, agar mudah dirasakan masyarakat, Pancasila tidak hanya dalam tapi harus termanifestasikan dalam bentuk konkret. Menurut dia, kurikulum atau bahan ajar Pancasila dari PAUD sampai Perguruan Tinggi memang penting untuk membentuk manusia Pancasilais. Tapi tak kalah penting adalah praktik material atau ekosistem yang terbentuk harus Pancasilais. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA