Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

CDC: Radang Jantung Setelah Vaksin Covid-19 Jarang Terjadi

Kamis 24 Jun 2021 17:35 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Reiny Dwinanda

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan Pfizer BioNTech. CDC menyebut, kasus radang jantung bagi penerima vaksin Pfizer atau Moderna cenderung langka.

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan Pfizer BioNTech. CDC menyebut, kasus radang jantung bagi penerima vaksin Pfizer atau Moderna cenderung langka.

Foto: Song Kyung-Seok / Pool via AP
FDA telah memberikan peringatan mengenai risiko radang jantung terkait dua vaksin.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat telah memverifikasi 323 kasus peradangan jantung pada orang yang menerima vaksin Pfizer dan Moderna Covid-19. Sejalan dengan itu, Food and Drug Administration (FDA) memberikan peringatan baru mengenai adanya risiko inflamasi jantung terkait vaksin Covid-19 Pfizer dan Moderna.

Akan tetapi, FDA memastikan bahwa manfaat vaksinasi jauh lebih besar dibandingkan risikonya. CDC mengungkapkan, kasus radang jantung bagi penerima vaksin Pfizer atau Moderna cenderung langka.

CDC menyebut, kasus miokarditis dan perikarditis telah terlihat sebagian besar pada rentang usia antara 12 hingga 39 tahun. Sebagian besar kasus terjadi setelah dosis vaksin kedua.

Dalam pertemuan publik komite penasihat vaksin CDC pada Rabu waktu setempat disampaikan bahwa kebanyakan orang yang mengalami efek samping ini telah pulih dari gejala dan baik-baik saja. Dari 323 kasus, 295 dipulangkan dari rumah sakit, sembilan tetap dirawat di rumah sakit pada minggpekan lalu, dan 14 tidak dirawat di rumah sakit sama sekali. Data hasil hilang untuk lima kasus.

"Tidak ada kematian yang dikaitkan dengan efek samping ini. Gejalanya meliputi nyeri dada atau tekanan dan kesulitan bernapas," kata ahli jantung di Rumah Sakit Anak Texas yang telah merawat pasien dengan kondisi terkait vaksin, Kristen Sexson Tejtel, dilansir dari NPR pada Kamis (24/6).

Tejtel menyebut, orang yang mengalami gejala sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau datang ke ruang gawat darurat.

"Perlu tes darah dan pencitraan jantung untuk dapat mengonfirmasi diagnosis," kata Tejtel.

CDC mengatakan, ada beberapa kasus peradangan jantung yang dilaporkan setelah vaksin Johnson & Johnson ke Sistem Pelaporan Kejadian Pasca Imunisasi, namun kasusnya tidak sebanyak dengan vaksin Moderna dan Pfizer. Jumlah kasus tidak meningkat banyak dari pekan lalu ketika Direktur CDC Rochelle Walensky menyebut ada lebih dari 300 kasus. 

Baca Juga

Bagaimana dengan dosis kedua, jika orang mengalami peradangan jantung setelah pertama divaksinasi?

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA