Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Ekonomi Mulai Pulih, OJK: Downside Risk Masih Diwaspadai 

Kamis 24 Jun 2021 16:26 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan beberapa downside risks masih perlu diwaspadai antara lain potensi kenaikan laju kasus harian karena varian baru di tengah kelangkaan stok vaksin, tekanan inflasi dari sisi penawaran, dan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Fed Fund Rate (FFR) yang lebih dini.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan beberapa downside risks masih perlu diwaspadai antara lain potensi kenaikan laju kasus harian karena varian baru di tengah kelangkaan stok vaksin, tekanan inflasi dari sisi penawaran, dan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Fed Fund Rate (FFR) yang lebih dini.

Foto: Antara/Hendra Nurdiyansyah
OJK menyebut downside risk seperti kenaikan kasus harian bisa pengaruhi ekonomi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini data perekonomian domestik masih menunjukkan pemulihan yang terus berlanjut. Hal ini sejalan dengan perbaikan ekonomi global terutama di negara-negara ekonomi utama dunia seiring dengan laju vaksinasi dan penanganan pandemi. 

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan beberapa downside risks masih perlu diwaspadai antara lain potensi kenaikan laju kasus harian karena varian baru di tengah kelangkaan stok vaksin, tekanan inflasi dari sisi penawaran, dan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Fed Fund Rate (FFR) yang lebih dini.

“Di tengah perkembangan tersebut, pasar keuangan domestik dilaporkan tetap terjaga stabil,” ujarnya dalam keterangan resmi seperti dikutip Kamis (23/6).

Wimboh merinci indeks harga saham gabungan (IHSG) per 18 Juni 2021 tercatat ke level 6.007 atau menguat satu persen month-to-date. Hal ini sejalan dengan perkembangan pasar saham negara berkembang lainnya dan pasar SBN terpantau menguat dengan rerata yield SBN turun 12 bps di seluruh tenor.

"Investor nonresiden juga mencatatkan net buy sebesar Rp3,89 triliun di pasar saham dan Rp 21,09 triliun di pasar SBN," ucapnya.

Tercatat kredit perbankan pada Mei 2021 meningkat sebesar Rp 32,23 triliun namun secara tahunan masih terkontraksi sebesar minus 1,23 persen year-on-year (yoy) dengan nilai kontraksi yang semakin kecil. Adapun perbaikan ini meneruskan tren positif selama empat bulan ke belakang seiring berjalannya stimulus pemerintah, OJK, dan otoritas terkait lainnya. 

Sedangkan dana pihak ketiga (DPK) kembali mencatatkan pertumbuhan double digit sebesar 10,73 persen yoy. Dari sisi suku bunga, transmisi kebijakan penurunan suku bunga telah diteruskan pada penurunan suku bunga kredit yang cukup kompetitif, khususnya untuk kredit korporasi. 

Kemudian rata-rata tertimbang suku bunga modal kerja korporasi menurun dari 8,66 persen menjadi 8,52 persen dengan pengenaan premi risiko yang konsisten dengan rating masing-masing korporasi, bahkan sejumlah korporasi mendapatkan suku bunga kredit yang lebih rendah dibandingkan yield surat utang korporasi yang diterbitkan untuk durasi yang proporsional.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA